Sunday, 11 April 2010

PESTISIDA DARI BAHAN BAWANG PUTIH DAN CABAI

Bahan pembuatan pestisida alami :
1.Bawang putih 3 biji yang sudah dikupas kulitnya
2. Segenggam cabai merah
Alat yang digunakan :

1. Panci
2.1/4 sabun
Cara pembuatan :

Campur 3 biji bawang yang sudah dikupas dengan segenggam cabai  dan rebus dalam sepanci air.Tambahkan 1/4 sabun aduk rata kemudian biarkan selama sehari. Saring cairan tersebut dan gunakan 2 cangkir larutan tersebut untuk satu kali penyemprotan.
* Bawang putih merupakan insektisida, fungisida dan penolak hama. Sabun akan membantu penyemprotan  untuk melekat pada tanaman dan serangga. Gunakan larutan ini untuk aphid(kutu daun), ulat bulu dan ngengat.
* Bawang putih dan cabai secara alami akan menolak banyak serangga. Tanamlah disekitar pohon buah dan lahan sayur untuk membantu mengurangi masalah-masalah serangga.

* Bawang putih dapat digunakan secara terpisah sebagai bahan pestisida. 


"SEMOGA BERMANFAAT"

Monday, 5 April 2010

PERTANIAN


   Jombang – Gerakan Revolusi Hijau bertujuan sejak tahun 1960-an bertujuan untuk mengantarkan Indonesia pada swasembada beras. Dengan bertumpu pada penggunaan teknologi Panca Usaha Tani, penerapan kebijakan harga sarana dan hasil reproduksi, serta adanya dukungan kredit dan infrastruktur, Indonesia mampu menjadi Negara swasembada berasa pada tahun 1984 – 1989.


   Namun, gerakan Revolusi Hijau sejak beberapa tahun lalu mulai menuai kritik. Pasalnya, gerakan tersebut tidak mampu untuk menghantarkan Indonesia menjadi sebuah negara yang berswasembada pangan secara tetap. Disamping itu, Revolusi Hijau juga telah menyebabkan terjadinya kesenjangan ekonomi dan sosial pedesaan. karena ternyata Revolusi Hijau hanyalah menguntungkan petani yang memiliki tanah lebih dari setengah hektar, dan petani kaya di pedesaan, serta penyelenggara negara di tingkat pedesaan.  

   Menanggapi kenyataan ini, sejumlah petani secara perlahan mulai meninggalkan cara-cara pengelolaan pertanian ala Revolusi Hijau. Diantara petani bahkan menggunakan metode pertanian seperti yang dilakukan sebelum masa revolusi hijau.

    Hudi, petani asal Dusun Sambigelar, Desa Pojok Kulon, Kecamatan Kesamben menuturkan, pada awal era pertanian Revolusi Hijau memang banyak memberikan keuntungan kepada petani. Hasil panen petani lebih meningkat serta masa tanam dan panen bisa lebih sering dilakukan.

    Namun, kondisi itu mulai berubah pada tahun 90-an. Konsep pertanian yang diusung oleh Gerakan Revolusi secara perlahan memberikan dampak negatif bagi petani. Selain hilangnya kedaulatan pertanian, kualitas lahan juga terus menurun.

    Hudi mengungkapkan, sekitar tahun 90-an, kondisi tanah pertanian sudah menunjukkan tanda-tanda penurunan kualitas. Hal itu ditandai dengan tanah sawah yang ambles dan berwarna hijau. Turunnya kualitas lahan pertanian berdampak pada peningkatan biaya produksi seiring dengan meningkatnya kebutuhan pupuk.

    Untuk mengembalikan kesuburan tanah sawahnya, Hudi mulai menggunakan pupuk kompos untuk menyemai tanamannya. Usaha yang dilakukannya akhirnya membuahkan hasil. Biaya produksi bisa ditekan sedangkan hasil panen berangsur meningkat. “Ya (sekarang) turun biayanya dan dari tahun ke tahun itu ada peningkatan hasil panen,” tuturnya.

      Menurut Hudi, saat ini kondisi petani masih lebih baik dibanding sebelumnya. “Kalau dibanding waktu revolusi hijau ya mending sekarang, sekarang itu penjualan malah bisa berhubungan langsung dengan tengkulak luar daerah jadi bisa negosiasi harga,” ujar Hudi.

     Sarkawi, petani asal Kecamatan Bareng menuturkan, pada tahun 50-an, era sebelum revolusi hijau, kondisi tanah sangat subur. Meskipun tidak diberi asupan pupuk, namun tanaman bisa tumbuh dengan baik. “Hasil tanaman juga enak.” Jelas dia.

      Sarkawi menambahkan, penurunan kualitas lahan pertanian mulai dia rasakan pada tahun 80-an. Hal itu ditandai dengan maraknya penggunaan pupuk buatan pabrik dan bibit yang dibeli dari toko. “Kalau dulu mau nanam ya nanam aja. Tidak usah pakai apa-apa ya (tetap) baik,” kata pria yang kini hanya bisa menjadi buruh tani karena sudah kehilangan lahan.

      Baik Sarkawi dan Hudi, sepakat jika pengelolaan pertanian harus memperhatikan kondisi ekosistem agar kualitas lahan pertanian tidak terus mengalami penurunan.

Sunday, 4 April 2010

PERTANIAN ORGANIK

PERTANIAN ORGANIK
 
Definisi Organik
 
Pertanian Organik adalah suatu metode produksi pertanian dan peternakan yang lebih memilih untuk tidak menggunakan pestisida tertentu, pupuk kimia, GMO (Genetically Modified Organisms) / Rekayasa Genetik, Antibiotik, dan Hormon Pertumbuhan yang tidak diperbolehkan oleh Standar Organik (Organic Standards)
Prinsip utama produksi organik, dari Canada’s Organic Standards 2006, adalah termasuk dibawah ini:
 
  • Protect the environment, minimize soil degradation and erosion, decrease pollution, optimize biological productivity and promote a sound state of health.(Menjaga lingkungan hidup, meminimalkan perusakan tanah dan erosi, mengurangi polusi, mengoptimalkan produktifitas biologis dan meningkatkan faktor kesehatan)
  • Maintain long-term soil fertility by optimizing conditions for biological activity within the soil.(Memelihara kesuburan tanah untuk jangka panjang dengan mengoptimalkan kondisi aktifitas biologis pada tanah)
  • Maintain biological diversity within the system (Memelihara keberagaman biologis di dalam systemnya)
  • Recycle materials and resources to the greatest extent possible within the enterprise.(Dalam usahanya memanfaatkan sebanyak mungkin bahan-bahan recycle)
  • Provide attentive care that promotes the health and meets the behavioural needs of livestock (Mengusung pemeliharaan yang meningkatkan kesehatan dan memenuhi kebutuhan mendasar dari ternak)
  • Prepare organic products, emphasizing careful processing, and handling methods in order to maintain the organic integrity and vital qualities of the products at all stages of production.( Mempersiapkan produk-produk organik, menekankan proses yang hati-hati, dan menggunakan metode untuk mencapai pemeliharaan terhadap integritas organik dan kualitas vital produk pada setiap tahapannya)
  • Rely on renewable resources in locally organized agricultural systems (Berpegang pada sumber daya yang dapat diperbaharui didalam system agrikultur yang diorganisasi secara lokal)
 
Banyak petani organik percaya bahwa pertanian organik yang sukses  dimulai dari tanahnya, karena lahan dengan tanah yang sehat menghasilkan tanaman yang sehat, dan pada gilirannya menghasilkan ternak yang sehat begitu pula manusia yang mengkonsumsinya.
 
Pertanian organik mengusung penerapan rotasi penanaman dan tanaman pelindung dan penutup (cover crop), serta menjaga keseimbangan hubungan antara mangsa dengan predator. Residu organik serta nutrisi yang dihasilkan dari pertanian di sirkulasi kembali ke dalam tanah. Tanaman penutup (cover crop) dan kotoran kandang yang sudah dikomposkan digunakan untuk mempertahankan kandungan organik dan kesuburan tanah. Metode pengendalian hama dan penyakit tanaman secara preventative / pencegahan dijalankan disini, termasuk rotasi penanaman (crop rotation), gen tanaman yang diperbaiki dan ditingkatkan kemampuannya, serta varietas yang lebih tahan terhadap penyakit. Managemen hama dan tanaman liar serta sistem konservasi tanah adalah alat-alat yang sangat berharga pada pertanian organik.
 
Produksi makanan organik melarang penggunaan bahan cair yang pekat atau pupuk mineral majemuk sintetis, pestisida majemuk sintetis, zat pengatur tumbuh / hormon, radiasi ion, dan hal-hal yang berkaitan dengan rekayasa genetik.
 
Pemberian Sertifikat Organik melarang penggunaan bahan-bahan yang disebutkan diatas serta praktek-praktek yang berkaitan untuk waktu selama minimal 3 tahun.
Pertanian organik menimbulkan banyak tantangan. Beberapa hasil pertanian malah lebih menantang dibandingkan lainnya. Namun demikian, hampir seluruh komoditas pertanian dapat dilakukan dengan cara organik.




Monday, 29 March 2010

Bertani dengan Cara Organik Ternyata Menguntungkan


Kekhawatiran penurunan hasil panen sempat menghantui. Namun, kekhawatiran itu berubah menjadi suka cita.

Itulah yang diarasakan Riono (45), warga Dusun Jasem, Desa Watu Galuh, Kecamatan Diwek, Jombang. Baginya, mengenal sistem pertanian organik membawa keberuntungan. Biaya produksi mampu ditekan sedangkan hasil panennya tetap memuaskan.

Diakui Riono, sejak menggeluti pertanian pada tahun 2004 lalu, dirinya selalu menggunakan pupuk dan pestisida kimia buatan pabrik. Semakin lama, biaya produksi untuk lahan pertanian seluas 5.600 meter persegi yang digarapnya makin meningkat. Peningkatan biaya produksi pertanian itu tidak lepas makin meningkatnya kebutuhan pupuk setiap kali datang masa tanam.
Peningkatan biaya produksi tidak diimbangi dengan jumlah pendapatan dari hasil panen. Dari tahun ke tahun, kata Riono, hasil panennya terus-menerus mengalami penyusutan. “Ya waktu awal-awal dulu saya pakai pupuk dan pestisidanya itu dari toko yang buatan pabrik (kimia). Tapi kok rasanya itu, hasilnya makin menurun kalau panen dan kalau musim tanam itu kebutuhan pupuk terus meningkat. Jadi, biaya produksi itu sangat tinggi,” tutur mantan sopir angkutan umum ini.


Kalkulasi antara biaya produksi dan hasil panen yang tidak berimbang membuat Riono berfikir keras. Hingga akhirnya, Riono mencoba mengelola pupuk kandang untuk dijadikan pupuk bogasi.

Sejak dua tahun lalu, pada setiap masa tanam, suami Istibsaroh ini melakukan percobaan menggunakan pupuk organik sebagai pengganti pupuk kimia. Memang, kata Riono, tidak semua lahan miliknya ditaburi dengan pupuk organik. Percobaan bertani menggunakan sistem pertanian organik dengan mengurangi pupuk kimia dan menggantinya dengan pupuk organik, dia terapkan pada lahan 2100 meter. “Setiap ganti musim tanam, saya terus ganti pupuk kimia dengan organik,”

Usaha keras Riono beserta isteri akhirnya membuahkan hasil. Pada panen kali ini, hasil panennya memuaskan meski dalam perlakuannya terhadap lahan pertanian dan tanaman dia menggunakan paket pupuk produksi pabrik. Lahan seluas 2100 meter persegi miliknya hanya dia beri pupuk organik hasil buatannya sendiri.

“Hasilnya cukup memuaskan, prosentase antara biaya produksi dan keuntungan sebesar 70% untuk hasil produksi dan 30% biaya produksi,” kata Riono.

Kini, Riono semakin yakin dengan sistem pertanian organik. Menurutnya, keuntungan menggunakan pupuk organik sangat banyak. Keuntungan itu meliputi tanaman lebih kebal terhadap penyakit, hasil panen lebih banyak, serta biaya produksi lebih sedikit. “Disamping itu, tanaman organik juga kuat menangkal hama dan beras lebih punel,” tutur Riono.

Istibsaroh (40), istri Riono, mengamini pernyataan Riono. Sebelum panen kali ini, keberhasilan bertani organik juga sudah dibuktikannya pada tanaman sayur. “Dulu itu suami saya pernah menanam cabai, tomat, terong dan jagung dengan organik juga dan hasilnya bagus,”

Untuk mengembangkan pertanian dengan sistem organik, Istibsaroh mengaku siap bahu membahu bersama suaminya. Dia pun tidak segan mengumpulkan kotoran ternak sapi sebagai bahan baku pupuk organik. (Eka Rimawati)

Thursday, 25 March 2010

Mengatasi Hama dengan Kumbang dan Laba-laba



Pada Edisi sebelumnya (Kobar Warga, Selasa, 23 Maret 2010), digambarkan bagaimana cara mengatasi serangan hama dengan ramuan-ramuan tanaman dengan campuran bahan-bahan organik. Pada edisi kali ini, akan disajikan manfaat serangga, kumbang dan laba-laba sebagai musuh alami untuk pemberantasan hama tanaman.

Musuh Alami Hama
Musuh alami merupakan salah satu komponen pengendalian hama terpadu yang dapat dimanfaatkan pada segala pola tanam. Pengendalian hama dengan memanfaatkan musuh alami memberikan banyak keuntungan di samping aman terhadap lingkungan, berkembang secara alami di lapang, apabila keberadaannya dapat diusahakan sejak awal akan efektif menekan perkembangan populasi hama.
Dalam sejarah pengendalian hama perhatian terhadap musuh alami sangat berkurang semenjak secara sepihak penggunaan pestisida dianggap satu-satunya metode pengendalian yang dapat diandalkan. Namun pengendalian dengan pestisida menimbulkan banyak efek samping baik masalah resistensi, resurjensi, dan terhadap organisme bukan sasaran. Kesadaran terhadap pentingnya pemanfaatan musuh alami dalam pengendalian hama sangat penting. (pangan.litbang.deptan.go.id)


Musuh alami hama wereng hijau bisa berupa predator, parasit maupun patogen. Secara harfiah, predator dapat dikatakan sebagai pemangsa. Namun, dalam hubungannya dengan jaring-jaring makanan, predator merupakan konsumen tingkat-2 sampai tingkat selanjutnya yang memangsa tingkat yang lebih kecil. Jadi, predator dapat dikatakan sebagai binatang atau organisme yang memakan binatang/organisme lainnya untuk mempertahankan hidupnya dan dilakukan secara berulang-ulang.

Keberadaan predator dalam suatu ekosistem mutlak dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan lingkungan yang ada. Predator merupakan serangga yang memangsa serangga lain dengan cara menangkap, menghisap cairan atau memangsa habis seluruh tubuh. Untuk melengkapi daur hidupnya untuk tujuan kelangsungan hidup, seekor predator memerlukan beberapa bahkan banyak mangsa. Hal ini berbeda dengan parasit. Parasit memerlukan satu ekor inang saja sebagai tempat untuk melengkapi daur hidupnya. (www.tanindo.com).

Pentingnya Predator
Keberadaan dan pentingnya predator dalam ekosistemnya dapat kita lihat kasus sebagai berikut : saat kita memulai menanam padi, maka saat itu juga kita memulai menciptakan sebuah komunitas baru pada areal penanaman padi. Pada saat bersamaan kita tidak hanya menanam padi melainkan juga hama penghisap bulir, penggerek batang, penyakit malai, penyakit busuk malai, predator Lycosa pesudoannulata, Pederus fuscifes, Ophionea nigrofasciata dan kumbang coccinella yang semuanya terkait dengan tanaman padi yang kita tanam. Begitu pula halnya dengan tanaman perkebunan yang dibudidayakan.

Penggunaan pestisida yang berlebihan, berspektrum luas dan tidak selektif disertai tehnik budidaya yang kurang baik akan berdampak pada ketidakseimbangan ekosistem, karena tidak hanya hama saja melainkan semua pemangsanya pun turut musnah. Dan bila terjadi ledakan populasi hama yang baru, jumlah predator yang ada tidak mencukupi sehingga pengendalian biologis tidak akan efektif.

Melihat pentingnya peran predator dan parasit dalam menjaga dan mengendalikan populasi hama, maka upaya yang dapat dilakukan adalah dengan mengurangi penggunaan insektisida yang berspektrum luas, aplikasi insektisida dengan melakukan pengamatan perbandingan jumlah hama dan musuh alami, bahkan bila perlu dalam suatu areal penanaman dilakukan manipulasi lingkungan agar mendukung peran dan jumlah musuh alaminya.

Musuh Alami Hama:
Laba-laba Serigala (Lycosa pseudoanulata)
Laba-laba Bermata Jalang (Oxyopes javanus)
Laba-laba Berahang Empat (Tetragnatha spp.)
Kepik Permukaan Air (Microvellia douglasi atrolineata)
Kepik Mirid (Cyrtorhinus lividipennis)
Kumbang Stacfilinea (Paederus fuscipes)
Kumbang Karabid (Ophionea nigrofasciata)
Kinjeng Dom (Agriocnemis spp.)
Belalang Bertanduk Panjang (Conocephalus longipennis)
Kumbang Koksinelid (Synharmonia octomaculata)


Disajikan oleh:
Lembaga Kajian & Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) NU dan Lembaga Pengembangan Pertanian NU Jombang.

PERTANIAN

Perawatan Tanaman Pengaruhi Kualitas

Jombang - Perawatan budidaya pertanian sejak masa tanam berpengaruh pada kualitas hasil panen. Demikian, benang merah diskusi pertanian bertema “Peningkatan Kuantitas Produksi Padi Tidak Diimbangi dengan Peningkatan Kualitas” dalam program acara Warung Komunitas (Warkom) di Radio Komunitas Suara Warga, Rabu (24/3) pagi.

Sejumlah pihak mengkhawatirkan, kualitas gabah hasil panen pada tahun ini mengalami penurunan. Pasalnya, saat masa panen ini musim hujan berlangsung. Rendaman banjir di beberapa wilayah di Kabupaten Jombang juga berpengaruh pada kualitas gabah hasil panen. Selain itu, perawatan budidaya pertanian sejak masa tanam diyakini berpengaruh pada kualitas gabah.

Wakil Kepala Bulog Devisi Regional Surabaya Selatan, Awaluddin Iqbal mengatakan, saat ini kondisi kualitas gabah dari petani Jombang masih cukup baik. Namun, pihaknya mengakui telah melakukan penolakan penerimaan gabah yang kualitasnya dibawah standart. “Kalau yang sekarang (sudah) memang lebih bagus, tetapi kita juga banyak menolak,” katanya.

Wage, Ketua IPPHTI Jombang mengatakan, petani perlu mendapatkan sosialisasi dan pemahaman terhadap pengolahan tanah dan tanaman agar hasil panennya berkualitas. “Yang penting sekarang itu, petani perlu mendapatkan pengertian pengolahan tanaman, mulai dari olah tanah sampai dengan pasca panen,” ujarnya.

Pernyataan senada dikatakan Ketua Lembaga Pengembangan Pertanian NU Jombang, Muhammad Subhan. Menurutnya, untuk menjaga kualitas hasil panen harus dimulai sejak masa tanam dan tetap memperhatikan pengolahan tanah.

Diskusi pada program acara Warkom di Radio Komunitas Suara Warga Jombang juga dihadiri Hadi Purwantoro dan Supraptono dari Dinas Pertanian Jombang. (Ms/Er)

Monday, 22 March 2010

Membasmi Hama Dengan Pestisida Organik

Penggunaan pestisida organik cukup mendukung untuk mengatasi masalah gangguan serangan hama tanaman komersial. Pestisida organik pun dapat menjamin keamanan ekosistem. Dengan pestisida organik, hama hanya terusir dari tanaman petani tanpa membunuh. Selain itu penggunaan pestisida organik dapat mencegah lahan pertanian menjadi keras dan menghindari ketergantungan pada pestisida kimia.

Ramuan Pengendali Hama Dari Pestisida Organik

Ramuan Pengendali Hama Wereng dan Ulat
Bahan dan Cara Pembuatan

Tembakau
Daun mindi
Daun arum dalu (sedap malam)
Daun jenu/tuba (Derriseleptica)
Labu siam Masing-masing daun mindi, daun sedap malam dan daun jenu/tuba ditumbuk halus secara terpisah dengan mencampurkan sedikit air, kemudian diperas pada wadah yang berbeda beda.

Ketiga air perasan bahan-bahan di atas dicampur dengan perbandingan 1 : 1 : 1

Rebus daun tembakau hingga mendidih, biarkan hingga dingin dan air sarinya diambil

Iris labu siam untuk diambil getahnya

Seluruh bahan-bahan di atas dicampur hingga
merata dan masukkan ke dalam botol, kemudian diamkan selama satu minggu

Bahan tersebut siap digunakan dengan
melarutkan ke dalam air dengan perbandingan 1– 2 sendok teh untuk 1 liter air.

Ramuan Mengatasi Ulat
Bahan Cara Pembuatan Kegunaan

Daun gamal/Gliricidia 1 Kg
Tembakau 2 ½ gram

Daun gamal ditumbuk sampai halus dan dimasak dengan 5 liter air, lalu dinginkan.

Tambahkan tembakau sambil diaduk-aduk.
Didiamkan selama satu malam.

Air sarinya siap digunakan dengan perbandingan ¼ liter untuk 10 liter air.

Ramuan ini berguna untuk memberantas ulat gerayak dan ulat lainnya.
.
Ramuan Mengatasi Hama Wereng
Bahan dan Cara Pembuatan Kegunaan

Buah kecubung
wulung 2 butir
Akar jenu/tuba 1 kg
Air 1 liter
Bahan-bahan ditumbuk halus dan direbus sambil diaduk-aduk hingga airnya mendidih

Dinginkan dan airnya disaring

Bahan siap digunakan, 1 liter bahan dicampur
dengan 16 liter air untuk memberantas hama wereng.

Ramuan Pengendali Walang Sangit
Bahan Cara Pembuatan

Brotowali 1 Kg
2 butir buah kecubung
Kedua bahan ditumbuk halus dan direbus dengan 1 liter air

Dinginkan kemudian disaring

Bahan siap digunakan dengan mencampurkan
16 liter air

Ramuan Pengendali Ulat Penggerek Batang dan Ulat Gerayak
Bahan dan Cara Pembuatan
Daun sampang
Daun soka geni
Daun mindi
Labu siam
Bahan-bahan dedaunan ditumbuk halus
kemudian airnya diperas.

Ambil getah labu siam, lalu dicampur dengan perasan dedaunan

Bahan didiamkan 1 minggu

Bahan siap digunakan untuk 1 – 2 sendok
dicampur dengan 1 liter air




HPP Naik, Harga Gabah Jatuh

Jombang – Meski pemerintah menetapkan kenaikan Harga Pemebelian Pemerintah (HPP) sebesar 10%, namun harga gabah di tingkat petani masih jauh dari HPP. Harga Gabah Kering Panen (GKP) yang diterima petani berkisar antara Rp. 2.100,- hingga 2.400,- per kilogram.

Sekretaris Desa Watudakon, Sumobito, Jombang, Burhanuddin mengatakan, petani di desanya rata-rata hanya mampu menjual gabah kategori GKP sampai dengan harga Rp 2.300,- per kilogram. Situasi ini membuat petani terdesak.

Menurut Burhanuddin, harga jual gabah dibawah HPP terjadi karena petani hanya bisa berhubungan dengan tengkulak. “Petani terdesak, apalagi pemerintah tidak memiliki inisiatif untuk membeli gabah langsung dari petani,” ujarnya, Senin (22/3) siang.

Kepala Dusun Jungkir, Desa Watu Dakon, Ahmad menilai, pemerintah terkesan tidak peduli pada kondisi petani. Petani dibiarkan terjebak pada kesulitan memasarkan gabah dengan harga yang tidak pantas.

Disisi lain, Nur Hadi, warga desa Watu Dakon mengaku terpaksa menjual gabah dengan harga yang ada karena terdesak kebutuhan pendidikan putra putrinya.

Kondisi serupa terjadi di Desa Carang Rejo, Kecamatan Kesamben. Rata-rata, harga GKP yang diterima hanya mencapai Rp 2.400,- perkilogram.

Sebelumnya, harga gabah kering panen (GKP) di wilayah Kecamatan Perak, Gudo, dan Bandar Kedungmulyo, berkisar antara Rp 2.100/kg hingga Rp 2.400/kg.

Kondisi ini membuat petani mengeluh. Pasalnya, berdasarkan Harga Penetapan Pemerintah (HPP) tahun 2010, harga gabah kering panen (GKP) sebesar Rp 2.640/kg.

Petani menduga, anjloknya harga gabah saat musim karena rendahnya perhatian pemerintah dan kuatnya permainan pasar. “Sebenarnya bukan hanya karena kualitas gabah. Tetapi ini juga karena permainan para tengkulak,” kata Matroji, petani asal Kecamatan Bandar Kedungmulyo, Rabu (17/3) lalu. (Ms/Er)

Sunday, 21 March 2010

Pestisida Organik, Mengapa Tidak?

Tidak bisa dipungkiri bahwa pestisida adalah salah satu hasil teknologi modern dan mempunyai peranan penting dalam peningkatan kesejahteraan rakyat. Pestisida merupakan zat kimia serta jasad renik dan virus yang digunakan membunuh hama dan penyakit. Dan sektor terbesar yang sering memakai pestisida adalah sektor pertanian. Penggunaannya meliputi sektor perikanan, perkebunan dan pertanian tanaman pangan yang menangani komoditi padi, palawija, dan hortikultura (sayuran, buah-buahan dan tanaman hias).

Penggunaannya dengan cara yang tepat dan aman adalah hal mutlak yang harus dilakukan mengingat walau bagaimanapun, pestisida adalah bahan yang beracun. Penggunaan pestisida yang salah atau pengelolaannya yang tidak bijaksana akan dapat menimbulkan dampak negatif, baik langsung maupun tidak langsung, bagi kesehatan manusia dan lingkungan.




Fakta dan Data Akibat Buruk Pestisida

1.Ditemukannya data penyakit-penyakit akut yang diderita pada kelompok petani, seperti hamil anggur pada isteri-isteri petani di Lembang.
2.12 orang petani di Klaten meninggal dunia akibat keracunan pestisida.
3.18 penduduk transmigrasi di Lampung Utara meninggal akibat racun tikus, penyakit kulit eksim basah, TBC, kanker saluran pernafasan.
4.25% dari 2400 wanita pada tahun antara 1959 – 1966 yang pernah melahirkan bayi dengan bobot di bawah normal memiliki kandungan DDT yang telah terurai pada darahnya lima kali lebih besar dari kadar normal.
5.Tahun 2001 terjadi kematian pada ayam-ayam di sekitar lahan pertanian akibat akumulasi paparan pestisida yang terbawa angin. (Kusnadi Umar Said, Puncak Jawa Barat).
6.Logam berat yang merupakan unsur pestisida biasanya ditimbun di dalam hati, sehingga mempengaruhi metabolisme dan menyebabkan kerusakan pada ginjal.
7.Pestisida juga dapat mengganggu peredaran hormon sehingga menyebabkan efek testikular dan menimbulkan sejumlah penyakit seperti kanker prostat, problem reproduksi perempuan, kanker payudara, dan perubahan perilaku.
8.Sebuah penelitian di Cina, bahkan mengungkap pria yang terkena pengaruh pestisida selama bekerja ternyata berisiko mendapat gangguan kualitas sperma yang dapat mempengaruhi kesuburan.
9.Ditemukan katak cacat tanpa sebelah kaki akibat penggunaan pestisida kimia oleh staf pengajar Jurusan Konservasi Sumber Daya Hutan Fak. Kehutanan IPB.


Membasmi Hama Dengan Pestisida Organik
Penggunaan pestisida organik cukup mendukung untuk mengatasi masalah gangguan serangan hama tanaman komersial. Pestisida organik pun dapat menjamin keamanan ekosistem. Dengan pestisida organik, hama hanya terusir dari tanaman petani tanpa membunuh. Selain itu penggunaan pestisida organik dapat mencegah lahan pertanian menjadi keras dan menghindari ketergantungan pada pestisida kimia.

Penggunaan pestisida organik harus dilakukan dengan hati-hati dan dengan kesabaran serta ketelitian. Banyaknya pestisida organik yang disemprotkan ke tanaman harus disesuaikan dengan hama. Waktu penyemprotan juga harus diperhatikan petani sesuai dengan siklus perkembangan hama. Untuk pencegahan adanya hama, penyemprotan dapat dilakukan secara periodik pada tanaman sayuran. Sebaiknya dalam waktu satu minggu sekali atau disesuaikan dengan ada tidaknya hama karena hama selalu berpindah.

Berbagai Jenis Pestisida Organik:
Pestisida yang berasal dari ikan mujair;
Pestisida dari ikan mujair dapat mengatasi hama tanaman terong dan pare, baik itu ulat, serangga, ataupun jamur.

Cara membuat pestisida organik dari ikan mujair : 1 kg ikan mujair dari empang, dimasukkan ke plastik, dibiarkan selama 3 hari. Kemudian direbus dengan dua liter air selama dua jam dan disaring. Dapat digunakan secara langsung atau ditambahkan tembakau dahulu.

Pestisida yang diperoleh dari biji mahoni, kunyit, jahe, serai dan cabe;
Pestisida dari mahoni berguna untuk mengatasi hama tanaman terong dan pare, baik itu ulat, serangga, ataupun jamur. Pestisida dari kunyit, jahe, serai berguna untuk mengatasi jamur tanaman dan buah. Sedangkan, pestisida dari cabe untuk mengatasi semua jenis hama kecuali hama di dalam tanah.

Pembuatannya dengan dihaluskan, diberi air, diperas dan disaring. Khusus untuk pestisida dari cabe, saat penyemprotan harus hati-hati jangan sampai berbalik arah mengenai manusia.

Selain dengan pestisida organik buatan, pengusiran hama lalat buah juga dapat dilakukan dengan pengalihan perhatian hama pada warna-warna yang disukainya. Caranya, dengan memasang warna tertentu yang bisa menarik lalat buah di sekitar tanaman. Pertanian secara tumpang sari juga bisa menjadi alternatif mengurangi hama tanaman tertentu. (*)

Bersambung
Disajikan oleh Lembaga Pengembangan Pertanian NU dan Lembaga Kajian & Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) NU Jombang

Thursday, 18 March 2010

PERTANIAN



Puluhan Hektar Tanaman Padi Terancam Gagal Panen

Jombang – Puluhan hektar tanaman padi di beberapa Kecamatan di Kabupaten Jombang terancam gagal panen. Rendaman banjir dan serangan hama wereng membuat sejumlah petani diliputi kecemasan.

Banjir yang melanda sebagian wilayah Kecamatan Perak pada Kamis (18/3) pagi, membuat puluhan hektar tanaman padi siap panen terendam air. Petani khawtir, akibat genangan air tanaman yang siap panen tersebut akan mengalami kerusakan. Selain menggenangi lahan pertanian, banjir juga menggenangi ratusan rumah penduduk serta gedung sekolah.

Sedangkan, di Kecamatan Ngoro, ancaman gagal panen juga menghantui petani karena serangan hama wereng. Sejak dua minggu terakhir ini, hama wereng menyerang puluhan hektar lahan pertanian milik sejumlah petani.

Menurut Sunaryo, salah seorang petani Desa Genukwatu Kecamatan Ngoro, serangan hama wereng membuat dirinya dan petani lain kelimpungan. Pasalnya, kurang dari dua minggu tanaman padi mereka sudah waktunya di panen. “Padahal kurang dua minggu lagi sudah panen,” ujarnya.

Para petani, sebenarnya sudah melakukan upaya penangkalan hama wereng. Namun usaha tersebut tidak membuahkan hasil. “Kami sudah melakukan penyemprotan pestisida setiap dua hari sekali. Tetapi, Hama wereng terus menyerang dan padi banyak yang mati,” kata Sanusi, petani lainnya. (Ms/Er)