Sunday, 14 March 2010

Bank Khusus Pertanian Masih Terkendala UU


Friday, 12 March 2010 15:52 Aan Anshory
Meski keberadaan Bank Pertanian sudah dimandatkan dalam UU No. 41 Tahun 2009 yang disahkan oleh DPR pertengahan September lalu, namun nampaknya realisasinya masih jauh panggang dari api.
Pendirian bank yang khusus untuk membiayai usaha pertanian tersebut memerlukan dukungan dan perlu ada kemauan politik dari pemerintah, baik pusat maupun daerah.Tanpa itu, dalam waktu lima tahun ke depan Indonesia bakal tetap mengalami kesulitan, apalagi produksi pertanian sangat rentan terhadap gangguan iklim.
Demikian papar Wakil Komisi IV DPR RI Jafar Hamzah pada seminar Membangun Pertanian, Menuju Kesejahteraan Petani yang digelar Forum Wartawan Pertanian di Jakarta, Selasa (16/2).

Ia mengemukakan, pendirian Bank Pertanian RI harus ada mendapat dukungan politik secara penuh, baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Menurutnya, tanpa itu, dalam waktu lima tahun ke depan Indonesia bakal tetap mengalami kesulitan, apalagi produksi pertanian sangat rentan terhadap gangguan iklim.
Dalam lima tahun ke depan pemerintah harus bisa membentuk bank pertanian. Jika dalam lima tahun ke depan tidak ada lembaga keuangan khusus bidang pertanian, maka tidak akan ada terobosan dalam pembangunan dan pengembangan bidang pertanian di Indonesia, kata Jafar Hafsah.

Ia menganggap, bidang pertanian itu sangat unik dan bagaikan anak anak yatim, sehingga harus ada regulasi khusus dalam mengikuti musim tanam. Menurutnya, bank pertanian akan bisa menyesuaikan diri dengan keunikan yang ada pada bidang pertanian, termasuk tingginya resiko dalam usaha pertanian. Bank itu juga dapat mempermudah petani dalam permodalan. "Jadi program pembiayaan pertanian jangan sekedar hanya skim kredit saja. Juga jangan sekedar bantuan ke kelompok tani atau gabungan kelompok tani, karena akan habis begitu saja," kata Jafar.
Sementara itu Wakil Rektor IPB, Prof Hermanto Siregar di tempat sama mengatakan bahwa kehadiran sebuah bank pertanian jelas akan sangat bermanfaat dan dibutuhkan. Negera-negara China, Vietnam, Thailand dan Afrika Selatan sudah mempunyai bank pertanian. Dalam waktu dekat pemerintah bisa mengembangkan Bank Pembangunan Daerah (BPD) sebagai sebuah bank yang khusus melayani bidang pertanian, katanya.
Dikemukakan bahwa potensi BPD sebagai bank pertanian cukup besar, karena saat ini saja total simpanan BPD di SBI (Sertifikat Bank Indonesia) mencapai Rp 113 triliun. Menurutnya, harus ada solusi untuk mendukung hal itu, dengan tahap awal bisa saja dua atau tiga kantor BPD menjadi basis dalam pemberian kredit pertanian.
Sebelumnya, sebulan setelah disahkannya UU ini, Menteri Pertanian Suswono menargetkan bank khusus pertanian akan terealisasi sebelum tahun 2014. "Dalam waktu lima tahun bisa diwujudkan bank yang spesifik untuk pertanian," kata Suswono saat meresmikan Pameran Pekan Buah Tropika Nusantara Indonesia Tropical Fruit Festival di pelataran Carrefour Lebak Bulus Jakarta Selatan, pertengahan Nopember lalu. Departemen yang dipimpinnya saat ini tengah menginisiasi berdirinya bank khusus pertanian dalam lima tahun mendatang.
Terkendala UU Perbankan
Sayangnya keoptimisan Menteri asal PKS ini harus berhadapan dengan masalah yang cukup mendasar, yakni terkendala oleh UU Perbankan. Dalam salah satu pasal UU Perbankan dimana pembentukan bank khusus tidak diperbolehkan kecuali bank syariah. Kendala ini jauh hari telah disuarakan oleh mantan Menteri Pertanian Anton Apriyantono. Menurut dia, upaya untuk memperjuangkan pembentukan bank pertanian telah dilakukan namun hal itu selalu terhenti pada aturan perundang-undangan yang berlaku.
Anton mengakui, sebenarnya bank-bank yang sudah ada selama ini bisa saja memberikan pelayanan kredit ke petani sehingga tidak perlu membentuk bank khusus pertanian.
Namun demikian, tambahnya, sistem yang diterapkan perbankan saat ini tidak memberikan peluang kepada petani kecil untuk mengakses permodalan. “Dengan suku bunga kredit yang ditetapkan sangat tinggi serta persyaratan agunan bagaimana mungkin petani kecil bisa memperoleh kredit,” katanya mempertanyakan. (Aan/matanews/news-kominfo)




Thursday, 11 March 2010

MENGHADAPI PANEN RAYA Pemerintah Agar Efektifkan Peran Lumbung


Diskusi pengamanan harga gabah saat panen raya di Radio Komunitas Suara Warga Jombang. Hadir dalam talkshow tersebut, Perwakilan Dinas Pertanian, Kantor Ketahanan Pangan, serta Bulog dan Ketua Lembaga Pengembangan Pertanian NU Jombang.





Jombang - Kepala Bidang Ketahanan Pangan, Dinas Pertanian Jombang, Hadi Purwantoro memperkirakan jumlah hasil produksi gabah tahun ini meningkat dibanding tahun 2009. Anjloknya harga gabah saat panen raya masih berpotensi terjadi.

Dalam talkshow di Radio Komunitas Suara Warga Jombang, Rabu (9/3) pagi, Hadi mengatakan, untuk menjaga kualitas gabah dan menghindarkan jatuhnya harga saat panen raya, petani diharapkan tidak melakukan panen saat matahari belum naik.

Nis Suhartini dari Kantor Ketahanan Pangan Jombang mengatakan, untuk menjaga agar harga gabah tidak turun saat panen raya, Pemkab Jombang telah menyediakan lumbung padi yang tersebar pada 42 Desa. Saat panen, petani diharapkan bisa memanfaatkan lumbung yang telah tersedia.

Ketua Lembaga Pengembangan Pertanian NU Jombang, Muhammad Subhan mengungkapkan, fenomena anjloknya harga gabah saat panen raya karena lemahnya peran pemerintah dalam menjaga kedaulatan pangan. Menurutnya, peran Badan Urusan Logistik (Bulog) perlu ditingkatkan efektifitasnya.

Selain itu, keberadaan lumbung di 42 Desa di Kabupaten perlu dievaluasi. “Pemerintah Daerah juga perlu mendorong lumbung agar lebih efektif. Jangan hanya membuat (lumbung) kemudian dibiarkan,” ujar Subhan. (Ms/Er)




Mengolah Limbah Tanaman Menjadi Pakan Ternak



Peternakan kambing yang memanfaatkan metode fermentasi pakan ternak.







Pada edisi 199, Selasa, 9 Maret 2010,
Koran Selembar Suara Warga (Kobar Warga) menyajikan teknik dan bahan dasar pembuatan pupuk organik padat dan cair. Pada edisi kali ini, Kobar Warga bekerjasama dengan Lembaga Kajian & Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) NU dan Lembaga Pengembangan Pertanian NU Jombang, menyajikan informasi tentang pengolahan pakan ternak organik.

Pembuatan Pakan Ternak Organik
Faktor Kuantitas dan kualitas pakan merupakan faktor utama penentu keberhasilan usaha peternakan karena hampir 2/3 biaya produksi berasal dari pakan. Oleh karena itu, perhatian terhadap asupan zat makanan ke ternak akan sangat menentukan keberhasilan budidaya peternakan.

Ada 2 masalah utama yang menyebabkan pakan ternak khususnya pakan ternak ruminansia yang diberikan tidak memenuhi kecukupan jumlah dan asupan nutrient. Masalah pertama adalah bahan pakan pada umumnya berasal dari limbah pertanian yang rendah kadar protein kasarnya dan tinggi serat kasarnya. Tingginya kadar serat ini yang umumnya didominasi komponen lignoselulosa (karbohidrat komplek) yang sulit dicerna (McDonald et al., 2000).

Masalah lainnya adalah ketersedian pakan yang tidak kontinyu. Ini dikarenakan langkanya bahan pakan terutama di musim kemarau. Untuk mengatasi masalah tersebut berbagai terobosan telah dilakukan. Untuk meningkatkan nilai gizi dari pakan ternak yang umum dilakukan adalah dengan memebuat menjadi hijauan kering (hay), penambahan urea (amoniasi) dan awetan hijauan (silase).

Pengolahan bahan pakan dengan pengeringan sangat tergantung dengan musim/panas matahari sedangkan pengolahan dengan amoniasi (penambahan urea) acapkali terjadi kausus toksikasi karena tingginya amonia. Teknologi yang sekarang berkembang adalah pembuatan pakan tidak hanya sekedar awet (silase) tapi juga kadar nutrient sesuai dengan kebutuhan gizi ternak.

Kenapa Dibuat Silase Komplit?
Dikarenakan sebagian besar pakan sapi mengandung serat yang tinggi, pengolahan bentuk silase memiliki beberapa keunggulan. Silase merupakan hijauan yang diawetkan dengan cara fermentasi dalam kondisi kadar air yang tinggi (40-80 persen).

Keunggulan pakan yang dibuat silase adalah pakan awet (tahan lama), tidak memerlukan proses pengeringan, meminimalkan kerusakan zat makanan/gizi akibat pemanasan serta mengandung asam-asam organik yang berfungsi menjaga keseimbangan populasi mikroorganisme pada rumen (perut) sapi. Konsep teknologi silase yang dikembangkan selama ini masih bersifat silase tunggal (single silage) dan proses pembuatannya dalam kondisi anaerob (tanpa oksigen).

Dalam praktek di lapangan, konsep silase ini cukup terkendala karena selain meminta tempat simpan (pemeraman) yang cukup vakum juga silase yang dihasilkan jika diberikan ke ternak hanya memenuhi 30-40 persen kebutuhan nutrisi ternak.

Berbeda dengan silase tunggal, silase komplit memiliki beberapa keunggulan :
1.Lebih mudah dalam pembuatannya karena tidak perlu memerlukan tempat pemeraman yang an-aerob, cukup dengan semi aerob.
2.Kandungan gizi yang dihasilkan juga lebih tinggi, dapat memenuhi 70-90 persen kebutuhan gizi ternak sapi.
3.Memiliki sifat organoleptis (bau harum, asam) sehingga lebih disukai ternak (palatable).

Teknik Pembuatan Silase Komplit
Prinsip pembuatan pakan komplit dalam bentuk silase ini seperti proses fermentasi pada umumnya. Bahan-bahan yang digunakan terdiri dari 3 kelompok bahan yakni kelompok bahan pakan hijauan, kelompok bahan pakan konsentrat dan kelompok bahan pakan aditif.

Bahan pakan hijauan disini dapat berupa bahan pakan dari hijauan makanan ternak (HMT) seperti rumputgajah (Pennisetum purpureum), rumput kolonjono (Panicum muticum), Tanaman Jagung (Zea mays)dan rumput-rumput lainnya. Selain dari HMT, limbah-limbah dari sisa panen seperti jermai padi, jerami kedelai juga dapat digunakan. Bahan pakan ini sebagai sumber serat utama.

Kelompok bahan pakan konsentrat dapat berupa dedak padi/bekatul, onggok (ampas tapioka), ampas sagu, ampas tahu dan lain-lain. Bahan pakan konsentrat ini selain untuk memperbaiki kandungan nutrisi dari pakan yang dihasilkan juga berfungsi sebagai substrat penopang proses fermentasi (ensilase).

Kelompok ketiga adalah bahan-bahan aditif. Bahan aditif disini dapat terdiri dari campuran urea, mineral, tetes dan lain-lain.

Rasio dari ketiga kelompok bahan tadi dapat mengacu pada formula 7:2:1 atau 6:3:1 berturut-turut; untuk Hijauan : Konsentrat : Aditif yang didasarkan pada persentase berat. Pencampuran dilakukan dengan urutan komponen bahan aditif dicampur dulu dengan konsentrat selanjutnya dicampurkan ke hijauan. Jika kondisi hijauan atau limbah petanian agak kering maka diperlukan tambahan air sehingga kadar air campuran mencapai +40 persen.


Pembuatan Pakan Ternak Komplit

1. Bahan :
 Tongkol jagung 3 kg
 Jerami kedelai 2 kg
 Slamper jagung ½ kg
 Dedak halus (bekatul) 2 kg
 Kulit kopi 1½ kg
 Ampas tahu yang dikering angin 1 kg
 Molase/tetes tebu 30 cc
 Mikroba 15 cc
 Garam 1 sendok teh
 Air 2 liter
2. Alat :
 Sekrop
 Timba
 Kotak kayu
 Plastik
 Pengaduk

3. Cara Pembuatan :
 Campur ampas tahu dengan dedak halus dan slamper jagung sampai rata.
 Campur tongkol jagung dengan jerami kedelai dan kulit kopi sampai rata.
 Kedua campuran dicampur dengan membalik-balik agar rata,
 Buat larutan induk dengan cara mencampur molase/tetes tebu dengan mikroba pakan ternak, Supleemen, garam dan air sebanyak 2 liter.
 Siramkan larutan induk pada campuran bahan sambil dibalik-balik agar dapat merata pemberian larutan
 Tumpuk dan tutup dengan plastik penutup
 Biarkan sampai 7 hari, lakukan pembalikan setiap 2 hari

Informasi Kandungan Bahan Pakan
Sumber energi
Termasuk dalam golongan ini adalah semua bahan pakan ternak yang kandungan protein kasarnya kurang dari 20%, dengan konsentrasi serat kasar di bawah 18%. Berdasarkan jenisnya, bahan pakan sumber energi dibedakan menjadi empat kelompok, yaitu:
a.Kelompok serealia/biji-bijian (jagung, gandum, sorgum)
b.Kelompok hasil sampingan serealia (limbah penggilingan)
c.Kelompok umbi (ketela rambat, ketela pohon dan hasil sampingannya)
d.Kelompok hijauan yang terdiri dari beberapa macam rumput (rumput gajah, rumput benggala dan rumput setaria).

Sumber protein
Golongan bahan pakan ini meliputi semua bahan pakan ternak yang mempunyai kandungan protein minimal 20% (berasal dari hewan/tanaman). Golongan ini dibedakan menjadi 3 kelompok:
a.Kelompok hijauan sebagai sisa hasil pertanian yang terdiri atas jenis daun-daunan sebagai hasil sampingan (daun nangka, daun pisang, daun ketela rambat, ganggang dan bungkil)
b.Kelompok hijauan yang sengaja ditanam, misalnya lamtoro, turi kaliandra, gamal dan sentero
c.Kelompok bahan yang dihasilkan dari hewan (tepung ikan, tepung tulang dan sebagainya).

Sumber Vitamin dan Mineral
Hampir semua bahan pakan ternak, baik yang berasal dari tanaman maupun hewan, mengandung beberapa vitamin dan mineral dengan konsentrasi sangat bervariasi tergantung pada tingkat pemanenan, umur, pengolahan, penyimpanan, jenis dan bagian-bagiannya (biji, daun dan batang). Disamping itu beberapa perlakuan seperti pemanasan, oksidasi dan penyimpanan terhadap bahan pakan akan mempengaruhi konsentrasi kandungan vitamin dan mineralnya.

Saat ini bahan-bahan pakan sebagai sumber vitamin dan mineral sudah tersedia di pasaran bebas yang dikemas khusus dalam rupa bahan olahan yang siap digunakan sebagai campuran pakan, misalnya premix, kapur, Ca2PO4 dan beberapa mineral.



Monday, 8 March 2010

Pertanian Organik, Pertanian Masa Depan


Untuk mendukung gerakan pertanian organik dan pertanian selaras alam, selama beberapa edisi kedepan, Koran Selembar Suara Warga (Kobar Warga) menghadirkan edisi khusus yang menampilkan beberapa teknik dan bahan dasar pembuatan pupuk, pestisida serta pakan ternak organik.

Materi tentang pertanian organik, merupakan hasil kajian, penelitian dan uji coba yang dilakukan oleh Lembaga Kajian dan Pengembangan Manusia (Lakpesdam) NU serta Lembaga Pengembangan Pertanian NU Jombang.
Membuat Pupuk Organik
Saat ini telah berkembang teknologi fermentasi yang mampu mengolah atau mengurai bahan organik menjadi pupuk maupun pakan ternak dalam waktu yang relatif singkat yakni 1 sampai 3 minggu. Kalau dulu untuk mengolah kompos menghabiskan waktu 3 sampai bulan sehingga petani lama-lama enggan bikin kompos.



PEMBUATAN PUPUK ORGANIK

PUPUK ORGANIK PADAT
Bahan :
Kotoran ternak (sapi,kambing dll) 5 kw
Jerami Padi 2 kw
Jerami kedelai (rendeng dele) 1 kw
Serbuk Gergaji 1 kw
Daun-daunan 1 kw
Dedak halus (bekatul) 5 kg
Molase/tetes tebu atau gula 1 liter
Mikroba (EM4) 1 liter
Air secukupnya
Alat :
Cangkul
Sekrop
Timba
Terpal
Cara Pembuatan :
Tahap Pertama ;
Campur ¼ liter molase/tetes tebu, ¼ liter mikroba, ½ gelas air aduk sampai rata.
Tambahkan dalam campuran tersebut sedikit demi sedikit dedak halus sambil diaduk (campuran induk)
Tahap Kedua
Campur ¾ liter molase/tetes tebu, ¾ liter mikroba dalam 10 liter air (larutan induk).
Tahap Ketiga ;
Pembuatan pupuk organik dilakukan secara berlapis.
Pada tiap lapisnya : bagian bawah adalah kotoran ternak diikuti serbuk gergaji, campuran induk, jerami padi, jerami kedelai dan daun-daunan.
Siramkan larutan induk dengan menambahkan air (untuk pengenceran) secukupnya sesuai kelembaban bahan.
Kemudian buat lapisan berikutnya sampai ketinggian lapisan maksimal 40 cm.
Setelah itu lapisan tersebut ditutup rapat selama 7 – 14 hari.
Sambil menunggu 7 – 14 hari setiap 2 hari lapisan tersebut dibalik.
Setelah 7 – 14 hari bahan organik sudah dapa dimanfaatkan sebagai pupuk.

PUPUK ORGANIK CAIR
Bahan :
Kencing Sapi 40 liter
Molase/tetes tebu 1 liter
Mikroba (EM4) 1 liter
Air kelapa 4 liter
Air cucian beras (leri) 5 liter
Empon-empon (temulawak, kunir, lengkuas) ½ kg
Alat :
Timba
Drum plastik
Pengaduk
Lumpang
Cara Pembuatan :
Masukkan kencing sapi pada drum plastik
Empon-empon dihaluskan/ditumbuk
Campur molase/tetes tebu, mikroba, air kelapa, air leri kemudian aduk sampai rata.
Tambahkan empon-empon yang sudah dihaluskan dalam campuran kemudian aduk sampai rata.
Masukkan campuran tersebut dalam drum plastik yan telah berisi kencung sapi.
Tutup rapat drum yang telah berisi campuran selama 7 hari, sambil menunggu pada hari ketiga drum dibuka dan lakukan pengadukan kemudian ditutup kembali,

Bersambung pada Edisi 200 (Jum’at, 12 Maret 2010).



Limbah Pasar dan Rumah Tangga untuk Pupuk Organik

Jombang – Disela-sela kesibukannya mengayuh becak, sejumlah abang becak Jombang mulai melirik untuk memanfaatkan limbah menjadi barang berguna. Limbah sayuran yang berasal dari pasar dan rumah tangga diolah menjadi pupuk organik.

Syaiful, salah seorang penarik becak mengatakan, ketertarikannya membuat pupuk organik dari limbah pasar dan rumah tangga diilhami dari kunjungannya ke Pusdakota Surabaya beberapa waktu lalu. Di Surabaya, Pusdakota bersama masyarakat Surabaya berhasil menangani masalah sampah dengan menjadikannya sebagai barang berguna. Sampah plastik dimanfaatkan sebagai bahan kerajinan tangan, sedangkan limbah organic digunakan sebagai pupuk.

Pengalaman studi banding ke Surabaya tersebut memunculkan inspirasi para penarik becak untuk menjadikan sampah organik sebagai pupuk. “Kami tertarik karena sampah juga bisa dimanfaatkan dan tidak hanya bisa dibuang,” kata Syaiful, Minggu (7/3).

Pernyataan senada diungkapkan M Taufiq, Ketua Paguyuban Becak Jombang (Pabejo). Disela-sela kesibukan mengais rezeki dari mengayuh becak, sejumlah abang becak belajar memanfaatkan sampah organik menjadi pupuk. Kegiatan tersebut, kata Taufiq, sekaligus sebagai usaha memberdayakan anggota Pabejo.

Ketua Lembaga Pengembangan Pertanian NU Jombang, Muhammad Subhan mengatakan, kualitas pupuk organik antara limbah pasar dan rumah tangga dengan limbah sawah sama baiknya. Apa yang dilakukan abang becak sangat baik guna mengatasi persoalan sampah. “Limbah organik baik dari pasar maupun dari sawah sama-sama baik. Dan pengolahan sampah organik menjadi pupuk juga sangat karena akan membantu mengatasi masalah sampah,” urai Subhan saat mendampingi abang becak melakukan uji coba pembuatan pupuk organik di pusat penelitian dan uji coba organik pada Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) NU Jombang. (Ms)

Thursday, 4 March 2010

NU Jombang Gelar Pelatihan Relawan Pengawas Mutu Gabah

Jombang – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang menggelar pelatihan pengawasan mutu gabah, Senin (1/3). Kegiatan tersebut sebagai tindak lanjut antara hasil kesepakatan antara PCNU Jombang dengan Badan Urusan Logistik (Bulog) Sub Drive Surabaya Selatan.

Kegiatan yang digelar di kantor NU Jombang tersebut dimaksudkan sebagai langkah antisipasi masa panen yang diperkirakan bakal berlangsung pada pertengahan bulan Maret. Diharapkan, paska pelatihan ini para relawan NU bisa bekerja secara professional untuk mengawasi mutu gabah agar harga tidak jatuh saat panen raya.

Menurut Ketua Lembaga Pengembangan Pertanian NU Jombang, Muhammad Subhan, jatuhnya harga gabah saat panen raya, salah satunya disebabkan minimnya pemahaman petani tentang mutu gabah. Tidak jarang, kurangnya pemahaman petani pada mutu gabah yang sesuai dengan standar HPP dimanfaatkan para tengkulak.

“Pengawas mutu gabah saat ini dibutuhkan sebagai langkah antisipasi menjelang panen raya, sekaligus untuk melindungi petani dari permainan harga,” katanya.

“Dan sangat penting disosialisasikan tentang standar kualitas gabah yang layak jual serta daftar tabel rafraksi (penyesuaian) yang dikeluarkan Departemen Pertanian pusat,” tambah Subhan.

Dalam pelatihan relawan pengawas mutu gabah peserta pelatihan diberikan materi pemahaman menyeluruh tentang tata cara pemeriksaan beras atau gabah yang masuk di Dolog. Salah satu ketrampilan yang dimaksud adalah kemampuan mengukur kadar air gabah sesuai standar HPP.

Sekretaris PCNU Jombang, Hamid Bisri mengatakan, pengawasan terhadap mutu gabah sangat diperlukan agar petani tidak menjadi korban permainan harga. Karena itu, pihaknya mengambil peran pengawasan mutu gabah melalui relawan yang dibentuk oleh NU. “NU sebagai organisasi sosial keagamaan, peranananya dalam bidang keagamaan saya kira sudah cukup jelas. Tinggal aspek sosial menyangkut kehidupan warga kita salah satunya masalah ekonomi, khususnya petani agar mereka dapat memperoleh kehidupan yang layak,” jelasnya. (Mtb)

Hadapi Panen Raya Kelompok Tani Perlu Rapatkan Barisan

Jombang – Datangnya masa panen raya pada tertengahan bulan Maret diperkirakan akan berdampak pada turunnya harga gabah. Penurunan harga gabah disebabkan berlimpahnya stok gabah yang tidak diimbangi dengan jumlah permintaan.

Untuk menyelamatkan petani dari kerugian, pemerintah menetapkan kenaikan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar 10%. Pemerintah menetapkan kenaikan harga gabah kering panen (GKP) Rp 2.640 per kilogram, gabah kering giling (GKG) Rp 3.300 per kilogram, serta beras Rp 5.060 per kilogram. Ketetapan tersebut berlaku mulai Januari 2010.
Namun, meski HPP naik, sejumlah petani mengaku resah. Buruknya tata niaga pertanian serta lemahnya perlindungan pemerintah membuat sejumlah petani tidak yakin gabah mereka bakal dibeli sesuai ketentuan HPP.

Menurut Suwarno, Petani asal Dusun Sarirejo, Desa Trawasan, Kecamatan Sumobito, pengalaman selama beberapa tahun terakhir ini membuktikan, saat panen raya petani seringkali mengalami kerugian karena rendahnya harga gabah. HPP yang ditetapkan pemerintah setiap tahunnya tidak mampu melindungi petani karena kuatnya permainan harga.

Menurut Suwarno, meski HPP dinaikkan pemerintah, namun kenaikannya tidak cukup menguntungkan petani. “Toh, kalaupun HPP diketahui, tetapi biasanya dipakai alasan gabah yang ada tidak memenuhi spesifikasi mutu yang ditetapkan (HPP). Jadi ya lagi-lagi petani harus mengalah dan Bulog sebagai lembaga yang mestinya melindungi petani,” ujar Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sarirejo ini.


Meski demikian, Suwarno mengaku masih memiliki rasa optimis jika masalah anjloknya harga gabah bisa diatasi petani. “Salah satunya cara yang bisa dilakukan adalah membuat rancangan pasar tersendiri sehingga tidak lagi bergantung pada tengkulak,” katanya, Kamis (4/3). Suwarno mengatakan, hal itu mungkin diwujudkan asalkan petani mau berkonsolidasi bersama dan memperkuat kelompok tani masing-masing.

Ketua Lembaga Pengembangan Pertanian NU (LP2NU) Jombang, Muhammad Subhan mengatakan, disamping faktor cuaca yang mempengaruhi kualitas hasil panen, kerugian yang dialami petani saat penan raya merupakan akumulasi dari buruknya mekanisme tata niaga.

“Harus diakui bahwa ini adalah akibat buruknya tata niaga pertanian. Petani tidak bisa disalahkan hanya karena alasan cuaca,” ujarnya. Dia berharap, kelompok tani yang sudah terbentuk di masing-masing desa bisa memperkuat organisasinya agar bisa berperan saat panen raya.

Selain itu, Dinas Pertanian diharapkan bisa lebih intens melakukan pembinaan pada kelompok-kelompok tani. “Bagaimana upaya mendorong kemandirian petani, bagaimana mendorong kebersamaan petani, bagaimana melakukan penyadaran di petani itu hampir tidak ada,” kritik Subhan.

“Dinas pertanian seharusnya tidak hanya mendorong munculnya kelompok tani, namun juga membina mereka agar lebih berdaya. Apalagi, Dinas itu juga dilengkapi dengan perangkat penyuluh pertanian,” lanjut Subhan.

Subhan menambahkan, pembentukan Lembaga Pembelian Gabah (LPG) saat ini patut dievaluasi pemerintah. Pasalnya, sejak diberlakukan 4 tahun lalu, keberadaan lembaga tersebut hingga kini tidak membawa dampak positif bagi kesejahteraan petani.

“Dengan fasilitas anggaran yang mencapai miliaran rupiah, semestinya kinerja LPG ini juga mendapatkan pengawasan. Apakah selama ini mereka (LPG) melakukan kerja-kerja pengamanan harga sebagaimana diamanatkan?” kritiknya lugas. (Ms/Mtb)

Pemerintah dan Bulog agar Turun Tangan


Memasuki masa panen raya di Kabupaten Jombang, pemerintah diharapkan turun tangan untuk mengamankan harga gabah. Demikian harapan beberapa petani Jombang.

M Nur Salim, Petani Sumobito।

“Yang penting, saat panen raya nanti pemerintah dan Bulog menurunkan satgas (satuan tugas) untuk membeli langsung gabah dari petani,”


Suwito, Petani Perak

“Pemerintah perlu turun tangan agar harga tidak jatuh। Selama ini saat panen raya (harga) selalu jatuh,”




Ngadiman, Petani Tembelang

“Saat panen raya, harusnya Bulog itu bisa turun tangan dan mengambil gabah langsung dari petani. Sehingga petani tidak berurusan lagi dengan tengkulak,”

Hindari Kerugian, Petani Agar Tunda Jual Gabah

Jombang – Agar terhindar dari kerugian saat panen raya, petani diharapkan bisa menunda masa jual gabah hingga mencapai harga yang pantas. Demikian saran Suprapto, Kepala Seksi Kelembagaan Penyuluhan, Dinas Pertanian Jombang.

Menurutnya, jika petani mau menunda untuk menjual gabah hasil panen, kerugian akibat jatuhnya harga saat panen raya bisa dihindari. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan memulai masa tanam, petani sebaiknya memanfaatkan kredit program yang ada di masing-masing kelompok tani.

Suprapto meyakini harga gabah di Jombang saat panen raya mendatang tidak akan jatuh secara drastis. Saat ini harga gabah masih cukup stabil meski panen sudah mulai.

Namun, harga gabah bisa menjadi rendah jika cuaca tidak bersahabat. “Nah, kalau harga jatuh itu bisanya karena cuaca yang jarang panas. Jadi, kadar air dalam gabah itu tinggi,” urai Suprapto, Kamis (4/5).

Keyakinan tidak akan terjadi penurunan harga saat panen raya dikemukakan Kepala Bagian Usaha Tani Dinas Pertanian Kabupaten Jombang, Hadi Purwantoro. “Sekarang itu malah kecenderungannya harga stabil. Bahkan, nanti kalau panen raya yang membeli gabah itu tengkulak dari luar kota seperti Kediri, pare dll. Dan itu harganya bisa jauh lebih tinggi karena banyak persaingan di sana,” ujar Hadi.

22 Ribu Hektar Padi Siap Dipanen
Hadi Purwantoro mengungkapkan, panen raya tahun 2010 ini jatuh pada bulan Maret. Lahan panen seluas 22.562 hektar dari luas keseluruhan tanaman padi siap dipanen pada bulan ini. “Panen raya kita Maret ini dengan luas lahan 22.562 hektar dari keseluruhan lahan panen 40.580 hektar,” katanya

Sebelumnya, pada bulan Januari dan Februari lalu, 23.574 hektar lahan tanaman padi sudah di panen. 16 hektar lahan dipanen pada Januari sedangkan pada bulan Pebruari, luas lahan yang dipanen sebanyak 996 hektar.

Sementara itu, Ketua Komisi B DPRD Jombang, Mastur Baidlowi berharap Dinas Pertanian bisa lebih optimal dalam mengamankan hasil-hasil panen petani. Kinerja maksimal dari pemerintah diyakini bisa membantu petani untuk kerugian saat panen raya.

Mastur berjanji, pihaknya akan mengawasi kinerja Dinas Pertanian dan Bulog menyonsong datangnya panen raya di wilayah Jombang. “Tugas kita adalah mengawasi kinerja Dinas Pertanian. Untuk kepentingan petani, kita akan pantau terus kinerja mereka,” ujar Mastur usai acara dengar pendapat (hearing) dengan Dinas Pertanian Kabupaten Jombang, Kamis (4/5). (Ms/Er)

Sebagian Petani dan Tengkulak Tidak Faham HPP


Jombang – Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang ditetapkan pemerintah tidak banyak diketahui petani. Padahal, penetapan HPP oleh pemerintah bertujuan untuk melindungi petani dari permainan harga.

Syaiful, Petani asal Desa Genukwatu, Kecamatan Ngoro, Jombang mengatakan, selama menggeluti dunia pertanian dia belum pernah memahami HPP gabah ataupun beras. Selama ini, untuk menjual hasil panennya, dia seringkali berpatokan pada harga pasar.

Tidak jarang, hasil panenya dibeli para tengkulak dengan harga yang berbeda. “Biasanya ya begitu, petani sama tengkulak itu itung-itungan dulu, baru kemudian menentukan harga,” ujar Syaiful.
Saipul mengatakan, dia lebih senang jika HPP diumumkan secara menyeluruh kepada petani sebelum musim panen tiba. Selama ini belum banyak petani yang memahami HPP meski sudah lama bergelut dalam pertanian.
Menurut Syaiful, sosialisasi HPP perlu dilakukan pemerintah kepada petani agar antara tengkulak dan petani tidak terlalu rugi. “Kalau tahu HPP-nya berapa, nanti khan bisa lebih praktis dalam menentukan harga,” katanya, Kamis (4/5).

Dia berharap, Badan Urusan Logistik (Bulog) lebih berperan aktif untuk membeli gabah dari petani dengan harga sesuai HPP.

Sulhan, salah seorang tengkulak menyatakan, selama menjalani profesi sebagai tengkulak dalam ukuran kecil dia tidak pernah memahami HPP. Dalam melakukan transaksi dengan petani, dia lebih sering menggunakan patokan harga yang berkembang di pasar.

”Yang saya tahu selama ini harga gabah itu nego dengan petani. Kalau harganya cocok ya jadi (beli). Biasanya saya beli Rp. 2.500 per kilogram. Saya tidak pernah tahu HPP gabah itu berapa,” terang Sulhan. (Ms/Er)