Sunday, 20 December 2009

Kekeringan, Petani Kesamben Tunda Masa Tanam


Jombang – Ribuan hektar lahan pertanian di Kecamatan Kesamben, Jombang mengalami kekeringan. Petani setempat memilih menunda masa tanam karena minimnya debit air yang mampu mencukupi kebutuhan pertumbuhan tanaman.

Petani khawatir bakal merugi jika tetap memaksakan diri untuk menanami lahannya dengan tanaman pertanian. Menurut petani, benih yang sempat ditabur pada lahan yang kekurangan air tersebut akhirnya layu dan tidak bisa berkembang.

Ponisan, ketua Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA) Desa Jombatan, Kecamatan Kesamben mengatakan, kekeringan lahan pertanian di wilayahnya disebabkan oleh tidak baiknya sistem pembagian air. Jatah 18 kubik air yang seharusnya menjadi milik petani di Dusun Sapon, Tambakrejo dan Candi Desa Jombatan tidak pernah sampai ke tempat mereka.

“Hingga hari ini masih kekeringan. (kami) Tidak mendapatkan giliran sampai empat kali. Padahal, air itu seharusnya 18 kubik, tapi kenapa kok tidak sampai sini? Itu berarti dinas pengairan tidak adil, seumpama adil walaupun kecil pasti sampai,” ujar Ponisan, Kamis (17/12) siang.

Sekitar 500 hektar sawah di Desa Pojok Kulon, Kesamben mengalami kondisi serupa. Peristiwa kekeringan lahan saat musim kemarau di Desa tersebut bahkan terjadi sejak tahun 1997 lalu.

Menurut Ikhsan, ketua HIPPA Desa Pojok kulon, meski sudah pernah melaporkan kurangnya pasokan air bagi lahan pertanian di wilayahnya, namun hingga kini air tidak menyentuh lahan persawahan milik HIPPA Pojok kulon. “Persoalan (air) ini sebenarnya sudah terjadi sejak tahun 90-an,” katanya.

Ihksan berharap pengaturan pembagian air agar lebih memperhatikan kebutuhan petani. Menurutnya, jika debit air bagi lahan pertanian tidak mencukupi, petani akan kesulitan untuk mengembangkan pertanian.

Sementara itu, kekeringan lahan juga melanda 200 hektar lahan persawahan di Dusun Sambigelar, Desa Pojok Kulon dan Desa Podoroto, Kesamben sebanyak 600 hektar. Beberapa waktu lalu, petani Desa Podoroto bahkan sempat melakukan protes dengan menanami saluran irigasi untuk lahan pertanian mereka dengan tanaman pisang.

Kurangnya Kepedulian Pemerintah
Kepentingan industri disinyalir menjadi penyebab berkurangnya jatah air bagi petani. “Kalau dulu, air itu nomor satu bagi petani. Tapi sekarang itu dinomor empatkan. Kalah dengan industri,” kata Nawun, petugas HIPPA Sambigelar.

Menurut Nawun, kepedulian pemerintah terhadap petani masih rendah. Kebutuhan petani akan air kurang diperhatikan karena pemerintah lebih mengutamakan kepentingan industri.

Ketua Lembaga Pengembangan Pertanian NU Jombang, Muhammad Subhan mengatakan, kekeringan ribuan hektar lahan pertanian di wilayah Kecamatan Kesamben dan sekitarnya sebenarnya sudah dilaporkan pada tahun 2001 lalu. Namun, keluhan dari 3000-an petani di wilayah Kesamben hingga kini belum mendapat tanggapan menggemberikan.

Menurut pria yang dulu pernah aktif dalam Forum Musyawarah Petani Jombang (FMPJ) ini, keinginan petani agar pemerintah melakukan penyudetan terhadap Dam Jati Mlerek untuk memenuhi kebutuhan air bagi pertanian tak pernah mendapat tanggapan. “Alasannya macam-macam. Salah satunya, kalau debit air sungai brantas berkurang karena disudet untuk kepentingan petani, maka ada perusahaan yang selama ini memanfaatkan sungai brantas akan rugi,” ujar Subhan.

Dia berharap, realitas kekeringan lahan yang dihadapi petani bisa direspon oleh pemerintah dengan memenuhi dan mengatur kebutuhan air bagi pertanian secara adil. (Ms/Er)

Friday, 11 December 2009

Petani Sesalkan Amburadulnya Sistem Irigasi



Jombang – Buruknya sistem irigasi di Kabupaten Jombang dikeluhkan petani. Sistem pembagian air yang buruk membuat petani asal Kecamatan Kesamben, Tembelang, Sumobito dan sekitarnya sering dirugikan.

Kepala Dusun Sambigelar, Desa Pojok Kulon, Kesamben, Hudi mengatakan, petani di daerahnya sering menjadi korban atas buruknya sistem pengairan. Sistem irigasi yang buruk membuat petani setempat menunda masa tanam.

Berdasarkan penyelidikan petani setempat, buruknya sistem pengairan diketahui karena beberapa Dam irigasi yang seharusnya ditutup pada saat jatah air untuk wilayah Kesamben, namun Dam tersebut justru dibiarkan terbuka. Hal itu menyebabkan lahan pertanian di daerah Kesamben dan sekitarnya tidak kebagian air. “Gara-gara ini saya harus menunda masa tanam, karena lahan saya terlalu kering. Seharusnya saya menyebar bibit sjak desember awal,” kata Hudi, Rabu (9/12).

Hal senada diungkapkan Imam Setiobudi, Petani asal Dusun Pulorejo, Tembelang. Ia mengaku jengkel karena buruknya sistem irigasi yang merugikan petani terus menerus terjadi sejak tahun 2002 lalu dan hingga kini belum ada perbaikan.

Imam Setiobudi mengatakan, saat musim kering, lahan pertaniannya tidak bisa mendapatkan jatah air yang cukup pengairan lahan pertanian. Namun, kondisi itu berubah saat musim hujan tiba. Lahan pertaniannya menjadi kebanjiran air karena air dari Dam irigasi pusat tidak dibendung dan langsung digelontorkan kebawah. “Saya sudah pernah lapor ke Dinas Pengairan katanya mereka masih memperbaiki sistem manajemen, tapi kenyataannya samapi sekarang masih seperti ini sistemnya,” keluhnya.

Sementara itu, M. Subhan, Ketua Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdatul Ulama (LP2NU) Jombang mengatakan, persoalan irigasi merupakan masalah lama tidak kunjung ada penyelesaian dari Pemerintah Kabupaten Jombang.

Menurut Subhan, buruknya sistem irigasi sebenarnya pernah dilaporkan petani kepada Dinas Pengairan Kabupaten Jombang. Namun, dari laporan dan protes yang dilakukan petani pada tahun 2002 lalu, hingga kini belum ada perkembangan positif. “Perbaikan manajemen yang telah dijanjikan oleh Pemerintah kabupaten Jomabang khusunya Dinas Pengairan gagal total,” ujarnya.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Jombang, Suhardy mengatakan, sistem irigasi untuk lahan pertanian diluar kewenangannya. “Itu diluar tanggung jawab kami, kewenangan kami adalah ketika air sudah berada di dalam lahan,” katanya saat dihubungi via phone.

Sementara, Kepala Seksi Operasional, Dinas Pengairan Jombang, Sutrisno, mengakui sistem pengairan untuk pertanian pada beberapa wilayah di Jombang masih butuh pembenahan. Tidak meratanya pembagian air kepada petani, kata Sutrisno, tak lepas dari ulah petani yang sering melakukan pencurian air dengan membuat saluran air sendiri.

“Untuk manajemen pengairan kita sudah berusaha memperbaiki. Tetapi jika sampai hari ini sistemnya masih dianggap buruk, itu diluar kemampuan kami. Kami sudah berusaha membagi (air) secara adil, tetapi masih ada petani yang memilih membuat saluran air sendiri,” ujarnya. (Er)

Wednesday, 2 December 2009

Ujang, Anak Kemarin Sore dan Pertanian Organik



Petani konvensional di tanah Sunda umumnya mengenal falsafah ”kadenge, kadeuleu, karampa, karasa” atau mendengar, melihat, meraba, dan merasakan. Bagi Ujang Ahmad Zaenal Muttaqin, falsafah yang dianut oleh para petani tradisional tersebut menjadi hambatan serius ketika dia ingin mengajak mereka untuk bertani organik.

Para petani konvensional harus mendengar, melihat, dan meraba dulu baru mereka percaya terhadap teknologi baru dalam bertani. Susahnya minta ampun untuk meyakinkan petani konvensional bahwa bertani organik dengan cara budidaya baru itu merupakan cara terbaik guna meningkatkan kesejahteraan mereka,” kata Ujang, ayah dua anak ini.

Kegelisahan Ujang terhadap nasib petani di desanya, Jambenenenggang, Kecamatan Kebonpedes, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, mulai muncul sekitar akhir tahun 2000. Ketika itu Ujang baru kembali dari Jepang, setelah bekerja di sebuah pabrik sejak tahun 1997.

Ketika di Jepang, setiap akhir pekan Ujang menyempatkan diri magang di sebuah sentra pertanian. Ini bisa dia lakukan dengan rekomendasi dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Sukabumi. Di sini dia melihat pertanian yang sudah sistematis dikerjakan mesin. Petani di Jepang hanya menjadi operator sejak membajak sawah, menyemai, menanam, hingga memanen. ”Produktivitas lahan mereka tinggi, mencapai 11 ton per hektar waktu itu,” ceritanya.

Pulang ke Indonesia, Ujang membuang mimpinya untuk melihat petani di kampungnya mengoperasikan mesin di sawah. Namun, muncul keyakinannya bahwa petani bisa meningkatkan taraf hidup jika mereka mau. ”Dari teknologi, jelas kita ketinggalan (dari Jepang). Tapi, kalau petani mau mengubah pola bertaninya, saya yakin mereka bisa meningkatkan taraf hidup,” kata Ujang.

Petani miskin

Lulusan Madrasah Aliyah Negeri Syamsul Ullum Sukabumi itu mendapati petani di sekitarnya sebagai petani miskin yang penghasilannya amat kecil. ”Di lahan seluas 1 hektar, petani penyewa hanya mendapat pemasukan sebesar Rp 2 juta selama satu musim, atau sekitar Rp 500.000 per bulan,” kata Ujang.

Penghasilan itu dihitung dari ongkos produksi, mulai dari pupuk dan pengolahan lahan sebesar Rp 2,2 juta per hektar serta sewa lahan Rp 7 juta per hektar per musim.

Hasil panen mereka hanya 5,6 ton per hektar dan dijual dengan harga Rp 2.000 per kilogram. Dengan demikian, panen semusim hanya memberi hasil Rp 11,2 juta. Setelah dikurangi ongkos produksi dan sewa lahan, petani hanya memperoleh Rp 2 juta per musim. ”Kami mengenal istilah, petani hanya timbul daki setelah bertani karena mereka memang tidak mendapat apa-apa,” kata Ujang.

Dengan falsafah yang dianut oleh para petani konvensional itu, dia harus memulai lebih dulu bagaimana bertani organik dan budidaya yang baik hingga bisa memberikan keuntungan.

Ketika memulai cara bertani organik, banyak petani konvensional yang mencemooh Ujang. Apalagi, dia masih termasuk ”anak kemarin sore” di kampung Kebonpedes. ”Banyak petani yang mengatakan bahwa mereka lebih dulu bertani daripada saya, jadi tentunya merasa lebih tahu. Saya diam saja, tetapi tetap yakin ketika melihat hasilnya, mereka akan percaya,” katanya.

Ujang kemudian memulainya dengan mengganti pupuk pabrik dengan pupuk kompos dari tumbuh-tumbuhan hijau dan granole (pupuk dari kotoran hewan yang dicampur dengan dekomposer). Ujang memerlukan waktu tiga musim untuk mengakhiri penggunaan pupuk pabrik karena kondisi tanah belum terbiasa.

Dia memproduksi sendiri granole dengan maksud agar tak bergantung pada pihak mana pun. Dia mendapatkan kotoran hewan dari warga yang beternak sapi dan para tetangga yang memiliki kambing dan ayam.

Apabila menggunakan kompos, sawah seluas 1 hektar memerlukan sekitar 5-7 ton. Adapun dengan granole, sawah luas yang sama hanya memerlukan 500 kilogram sampai 1 ton. Kebutuhan ini tergantung dari kondisi keasaman tanah.

Beralih ke organik

Selain beralih ke pertanian organik, Ujang juga memulai budidaya bertani yang baru, yakni dengan mengurangi penggunaan benih padi.

”Petani konvensional biasanya menggunakan hingga delapan bibit dalam satu lubang. Ketika tumbuh, maksimal hanya 18 anakan yang jadi karena bibit sulit tumbuh,” katanya.

Adapun cara yang dilakukan Ujang adalah dengan menggunakan satu-dua bibit saja per lubang. Ternyata setelah tumbuh, tanaman itu bisa menghasilkan 25 anakan per lubang.

Dengan cara itu, dia hanya memerlukan paling banyak 8 kilogram benih per hektar. Bandingkan dengan petani konvensional yang memerlukan benih sampai 35 kilogram per hektar.

Masih belum puas, Ujang berusaha menambah pengetahuan bertaninya dengan mengikuti Sekolah Lapangan Pengelola Tanaman Terpadu (SLPTT) di Kebonpedes. Terbukti, Ujang bisa mendongkrak produktivitas tanaman padinya menjadi 8 ton lebih per hektar.

Adapun ongkos produksi yang diperlukan Ujang untuk mengolah 1 hektar lahan hanya Rp 2,1 juta. Ditambah sewa lahan Rp 7 juta, dia hanya menghabiskan biaya sebanyak Rp 9,1 juta. Namun, hasil panen dan harganya bisa naik signifikan.

Dengan hasil panen padi organik pada musim terakhir sebanyak 8,82 ton per hektar dan harga gabah basah Rp 2.400 per kilogram, Ujang memperoleh penghasilan Rp 21,168 juta. Jumlah itu, setelah dikurangi modal kerja, masih bersisa Rp 12,068 juta dalam semusim, atau Rp 3 juta per bulan.

Melihat keberhasilan Ujang, puluhan petani konvensional dan pemuda pengangguran di Kebonpedes mulai tertarik menekuni pertanian organik. Dalam satu musim terakhir, delapan kelompok tani setempat meminta Ujang mendampingi mereka mempraktikkan cara bertani organik. Setiap kelompok tani itu mempunyai anggota 20-25 petani.

Seiring dengan makin banyaknya petani konvensional yang menerapkan pertanian organik dan cara budidaya baru itu, Ujang yakin petani di Kebonpedes akan mandiri. ”Apa lagi yang mau dibantah? Pupuk sudah bisa kami produksi sendiri dan harga gabah padi organik juga jauh di atas harga padi nonorganik. Kalau ada kemauan, sebenarnya tidak sulit menjadi petani mandiri,” kata Ujang.

Jombang Dinilai Belum Siap Laksanakan Pertanian Organik

JOMBANG, KOMPAS.com- Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Nahdlatul Ulama atau Lakpesdam NU Kabupaten Jombang menilai Pemerintah Kabupaten Jombang belum siap melaksanakan konsep pertanian organik.

Penilaian disampaikan Lutfi Prasetyo Aji dari Divisi Advokasi Lakpesdam NU Jombang, Senin (20/7). Menurut dia, penyebabnya adalah paradigma soal pertanian organik belum terbangun utuh, karena masih relatif lemahnya infrastruktur seperti kemampuan penyuluh pertanian dan petani ya ng masih belum memahami secara utuh konsep pertanian organik.

Akibatbya adalah munculnya ketakutan para petani yang merisaukan soal pemasaran hasil panen padi organik yang mereka tanam. Itu misalnya terjadi di Desa Sudimoro, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang, sejak pekan pertama bulan ini.

Tuesday, 1 December 2009

Kembangkan Pertanian Organik Di Tengah Isu Kelangkaan Pupuk



Jombang – Sejumlah petani dari beberapa wilayah di Kabupaten Jombang mulai mengembangkan sistem pertanian organic. Mereka memproduksi pupuk organik serta membuat obat-obatan tanaman dari bahan alami untuk tanaman mereka.
Hal itu sebagaimana dilakukan oleh Petani Alami Watugaluh (PAW), Desa Watugaluh, Diwek Jombang, Rabu (25/11) lalu. 25 orang petani setempat secara bersama-sama membuat pestisida nabati sebagai obat-obatan bagi tanaman mereka. Sebelumnya, pada Minggu (22/11), kelompok tani tersebut juga membuat pupuk organic yang berasal dari kotoran ternak.
Kelompok tani lainnya, yakni kelompok tani Desa Palrejo, Sumobito, kelompok tani Pulorejo, Tembelang serta para petani dari Katemas, Kudu, Jombang juga melakukan serupa.
Petani berharap, kemampuan memproduksi pupuk dan pestisida organik bisa membantu mereka ditengah kelangkaan pupuk serta kemungkinan bakal naiknya Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk bersubsidi dipasaran. (dn)

Sunday, 29 November 2009

Pestisida Organik? Mengapa Tidak

Tidak bisa dipungkiri bahwa pestisida adalah salah satu hasil teknologi modern dan
mempunyai peranan penting dalam peningkatan kesejahteraan rakyat. Pestisida merupakan
zat kimia serta jasad renik dan virus yang digunakan membunuh hama dan penyakit. Dan
sektor terbesar yang sering memakai pestisida adalah sektor pertanian. Penggunaannya
meliputi sektor perikanan, perkebunan dan pertanian tanaman pangan yang menangani
komoditi padi, palawija, dan hortikultura (sayuran, buah-buahan dan tanaman hias).
Penggunaannya dengan cara yang tepat dan aman adalah hal mutlak yang harus dilakukan
mengingat walau bagaimanapun, pestisida adalah bahan yang beracun. Penggunaan pestisida
yang salah atau pengelolaannya yang tidak bijaksana akan dapat menimbulkan dampak
negatif, baik langsung maupun tidak langsung, bagi kesehatan manusia dan lingkungan.
FAKTA DAN DATA AKIBAT BURUK PESTISIDA
Fakta-fakta di lapangan menunjukkan bahwa :
Diketemukannya data penyakit-penyakit akut yang diderita pada kelompok petani, seperti
hamil anggur pada isteri-isteri petani di Lembang.
12 orang petani di Klaten meninggal dunia akibat keracunan pestisida.
18 penduduk transmigrasi di Lampung Utara meninggal akibat racun tikus, penyakit kulit
eksim basah, TBC, kanker saluran pernafasan.
25% dari 2400 wanita pada tahun antara 1959 – 1966 yang pernah melahirkan bayi
dengan bobot di bawah normal memiliki kandungan DDT yang telah terurai pada darahnya
lima kali lebih besar dari kadar normal.
Tahun 2001 terjadi kematian pada ayam-ayam di sekitar lahan pertanian akibat akumulasi
paparan pestisida yang terbawa angin. (Kusnadi Umar Said, Puncak Jawa Barat).
Logam berat yang merupakan unsur pestisida biasanya ditimbun di dalam hati, sehingga
mempengaruhi metabolisme dan menyebabkan kerusakan pada ginjal.
Pestisida juga dapat mengganggu peredaran hormon sehingga menyebabkan efek
testikular dan menimbulkan sejumlah penyakit seperti kanker prostat, problem reproduksi
perempuan, kanker payudara, dan perubahan perilaku.
Sebuah penelitian di Cina, bahkan mengungkap pria yang terkena pengaruh pestisida
selama bekerja ternyata berisiko mendapat gangguan kualitas sperma yang dapat
mempengaruhi kesuburan.
Ditemukan katak cacat tanpa sebelah kaki akibat penggunaan pestisida kimia oleh staf
pengajar Jurusan Konservasi Sumber Daya Hutan Fak. Kehutanan IPB.
Penipisan cangkang telur burung elang.
Mengganggu kehidupan perairan, misalnya membunuh ikan – ikan.
Gejala keracunan yang disebabkan oleh berbagai golongan pestisida :
Golongan Pestisida Cara bekerjanya Gejala keracunan yang timbul
Klor organik : endrin, aldrin,
endosulfan(thiodan), dieldrin,
lindane(gamma BHC), DDT
Mempengaruhi susunan syaraf pusat
terutama otak
Mual, sakit kepala, tak dapat
berkonsentrasi. Pada dosis tinggi dapat
terjadi kejang-kejang muntah dan dapat
terjadi hambatan pernafasan
Fosfat organik: mevinfos (fosdrin),
paration, gution, monokrotofos
(azodrin), dikrotofos, fosfamidon,
diklorvos (DDVP), etion, efntion,
diazinon.
Menghambat aktivitas enzim
kholinnestrase
Sakit kepala, pusing-pusing, lemah,
pupil mengecil, gangguan penglihatan
dan sesak nafas, mual, muntah, kejang
pada perut dan diare, sesak pada dada
dan detak jantung menurun.
Karbamat : aldikarb(temik), carbofuran
(furadan), metomil (lannate), propoksur
(baygon), karbaril (sevin)
Menghambat aktivitas enzim
kholinestarse, tetapi reaksinya
reversible dan lebih banyak bekerja
pada jaringan, bukan dalam
darah/plasma.
Tanda-tanda keracunan umunya
lambat sekali baru terlihat
Dipiridil : paraquat, diquat dan
morfamquat
Dapat membentuk ikatan dan merusak
jaringan ephitel dari kulit, kuku, saluran
pernafasan dan saluran pencernaan,
sedangkan larutan yang pekat dapat
menyebabkan peradangan.
Gejala keracunan selalu lambat
diketahui, seperti perut, mual, muntah
dan diare karena ada iritasi pada
saluran pencernaan. 48-72 jam baru
gejala kerusakan seperti ginjal seperti
albunuria, proteinura, hematuria, dan
peningkatan kreatinin lever, 72 jam-14
hari terlihat tanda-tanda kerusakan
pada paru-paru
Antikoagulan : tipe kumarin (warfarin),
tipe 1,3 indantion: difasinon, difenadion
(Ramik)
Pestisida ini cepat diserap oleh
pencernaan makanan, penyerapan
dapat terjadi sejak saat tertelan sampai
2-3 hari.Kumrain dapat diserap melalui.
Kedua tipe pestisida ini
Hematuria (kencing berdarah), hidung
berdarah, sakit pada rongga perut,
kurang darah dan kerusakan ginjal
Arsen : arsen trioksid, kalium arsenat,
asam arsenat dan arsin(gas).
Menghambat pembentukan zat yang
berguna untuk koagulasi/pembekuan
darah antara lain protrombin
Keracunan arsen pada umumnya
melalui mulut walaupun bisa juga
diserap melalui kulit dan saluran
pernafasan
Pada keracunan akut: nyeri pada perut,
muntah dan diare. Pada keracunan sub
akut akan timbul gejala seperti sakit
kepala, pusing dan banyak keluar ludah
PERTANIAN ORGANIK
Saat ini, pangan organik merupakan trend komoditas bisnis yang sangat bagus. Berbagai
seminar – seminar pun sering dilakukan, baik oleh pihak departemen pertanian, departemen
kesehatan, para pejabat teras, bulog bahkan LSM – LSM pun turut serta dalam berpartisipasi
agar masyarakat indonesia dan para petaninya agar untuk mengkonsumsi dan menanam
pangan organik.
Sekarang rata – rata para petani di Indonesia sudah banyak yang membuka lahan dan
mengembangkan pertanian organik. Terbukti menurut komentar para petani yang sudah 5
sampai dengan 8 tahun mengembangkan dan membudidayakan pertanian organik,
pendapatan petani tanaman organik menuju keadaan membaik daripada petani dengan
pertanian kimiawi/anorganik. Alasannya di samping pendapatan hasil pertaniannya meningkat
plus mereka juga menikmati pola dan gaya sehat secara alamiah dan murah.
PESTISIDA ORGANIK
Di era serba organik seperti sekarang ini, penggunaan pestisida organik cukup mendukung
untuk mengatasi masalah gangguan serangan hama tanaman komersial. Pestisida organik
pun dapat menjamin keamanan ekosistem. Dengan pestisida organik, hama hanya terusir
dari tanaman petani tanpa membunuh. Selain itu penggunaan pestisida organik dapat
mencegah lahan pertanian menjadi keras dan menghindari ketergantungan pada pestisida
kimia.
Penggunaan pestisida organik harus dilakukan dengan hati-hati dan dengan kesabaran
serta ketelitian. Banyaknya pestisida organik yang disemprotkan ke tanaman harus
disesuaikan dengan hama. Waktu penyemprotan juga harus diperhatikan petani sesuai
dengan siklus perkembangan hama.
Untuk pencegahan adanya hama, penyemprotan dapat dilakukan secara periodik pada
tanaman sayuran. Sebaiknya dalam waktu satu minggu sekali atau disesuaikan dengan
ada tidaknya hama karena hama selalu berpindah.
Berbagai jenis pestisida organik antara lain :
Pestisida yang berasal dari ikan mujair. Pestisida dari ikan mujair dapat mengatasi
hama tanaman terong dan pare, baik itu ulat, serangga, ataupun jamur. Cara membuat
pestisida organik dari ikan mujair : 1 kg ikan mujair dari empang, dimasukkan ke
plastik, dibiarkan selama 3 hari. Kemudian direbus dengan dua liter air selama dua jam
dan disaring. Dapat digunakan secara langsung atau ditambahkan tembakau dahulu.
Pestisida organik lainnya dapat diperoleh dari biji mahoni, kunyit, jahe, serai dan cabe.
Pembuatannya dengan dihaluskan, diberi air, diperas dan disaring. Untuk cabe saat
penyemprotan harus hati-hati jangan sampai berbalik arah mengenai manusia.
Pestisida dari mahoni untuk mengatasi hama tanaman terong dan pare, baik itu ulat,
serangga, ataupun jamur. Kunyit, jahe, serai untuk mengatasi jamur tanaman dan
buah. Cabe untuk mengatasi semua jenis hama kecuali hama di dalam tanah.
Selain dengan pestisida organik buatan, pengusiran hama lalat buah juga dapat
dilakukan dengan pengalihan perhatian hama pada warna-warna yang disukainya.
Caranya dengan memasang warna tertentu yang bisa menarik lalat buah di sekitar
tanaman. Pertanian secara tumpang sari juga bisa menjadi alternatif mengurangi
hama tanaman tertentu.

RAMUAN PENGENDALI HAMA DARI PESTISIDA ORGANIK

Ramuan Pengendali Hama Wereng dan Ulat
Bahan Cara Pembuatan
Daun mindi
Daun arum dalu (sedap malam)
Daun jenu/tuba (Derriseleptica, dalam
Bahasa Inggris : Derris, tuba root. Tumbuhan
berkayu memanjat dengan setiap ranting
mengandung 7 - 15 pasang daun, daun
muda berrambut kaku pada kedua
permukaannya. Di bahagian bawah daun
diliputi oleh bulu lembut berwarna perang.
Mahkota bunganya berwarna merah muda
serta sedikit berbulu. Tumbuhan ini juga
mempunyai buah berbentuk lonjong atau
lonjong-menjorong, dengan sayap yang tipis
di sepanjang kedua sisi. kekacang nipis dan
rata berukuran 9 cm, lebar 0.6 - 2.5 cm. dan
terdapat 1 - 4 biji dalam satu kekacang.)
Tembakau rokok
Masing-masing daun mindi, daun sedap malam
dan daun jenu/tuba ditumbuk halus secara
terpisah dengan mencampurkan sedikit air,
kemudian diperas pada wadah yang berbedabeda
Ketiga air perasan bahan-bahan di atas dicampur
dengan perbandingan 1 : 1 : 1
Rebus daun tembakau hingga mendidih, biarkan
hingga dingin dan air sarinya diambil
Iris labu siam untuk diambil getahnya
Seluruh bahan-bahan di atas dicampur hingga
merata dan masukkan ke dalam botol, kemudian
diamkan selama satu minggu
Bahan tersebut siap digunakan dengan
melarutkan ke dalam air dengan perbandingan 1
– 2 sendok teh untuk 1 liter air.

Ramuan Mengatasi Ulat
Bahan Cara Pembuatan Kegunaan
Daun gamal (Gliricidia sepium, Inggris :
Gliricidia, mother of cocoa. Batang
tunggal atau bercabang, jarang yang
menyemak, tinggi sampai 15 m. Batang
tegak, halus, kulit beralur, diameter
hingga 30 cm, dengan atau tanpa cabang
di dekat pangkal tersebut. Kulit batang
coklat keabu-abuan dengan alur-alur kecil
pada batang yang telah tua. Daun
majemuk menyirip, panjang 19-30 cm,
terdiri 7-17 helai daun dengan posisi
saling berhadapan kecuali di bagian
ujung ibu tangkai, berbentuk jorong atau
lanset. Perbungaan majemuk aksiler,
kelopak bunga berbentuk lonceng, daun
mahkota berwarna putih ke merahjambuan
atau ungu, yang akan berubah
menjadi kekuningan mendekati pangkal
bunganya. Buah polong, pipih, tangkai
buah kecil, kulit buah dewasa terpuntir
ketika terbuka. Satu buah mengandung 4
– 10 biji, biji berbentuk jorong,
panjangnya sekitar 10 mm, mengkilap,
dan berwarna merah kecoklatan Daun gamal ditumbuk
sampai halus dan dimasak
dengan 5 liter air, lalu
dinginkan.
Tambahkan tembakau
sambil diaduk-aduk.
Didiamkan selama satu
malam.
Air sarinya siap digunakan
dengan perbandingan ¼ liter
untuk 10 liter air.
Memberantas ulat
gerayak dan ulat
lainnya
Tumbuhan perintis/reklamasi) 1 kg
Air 5 liter
Tembakau 2 ½ gram

Ramuan Mengatasi Hama Wereng
Bahan Cara Pembuatan Kegunaan
Buah kecubung
wulung 2 butir
Akar jenu/tuba 1 kg
Air 1 liter
Bahan-bahan ditumbuk halus dan
direbus sambil diaduk-aduk hingga
airnya mendidih
Dinginkan dan airnya disaring
Bahan siap digunakan
Satu liter bahan dicampur
dengan 16 liter air untuk
memberantas hama wereng

Ramuan Pengendali Walang Sangit
Bahan Cara Pembuatan
Brotowali 1 Kg dan 2 butir buah kecubung
wulung (Inggris : Downy thorn apple, metel
thorn apple. Buahnya buah kotak,
berbentuk bulat, berduri tempel dan tajam.
Bijinya banyak, kecil-kecil, gepeng
berwarna kuning kecoklatan.)
Kedua bahan ditumbuk halus dan direbus
dengan 1 liter air
Dinginkan kemudian disaring
Bahan siap digunakan dengan mencampurkan
16 liter air

Ramuan Pengendali Ulat Penggerek Batang dan Ulat Gerayak
Bahan Cara Pembuatan
Daun sampang
Daun soka geni (Inggris : Chinese ixora.
Perdu dengan banyak batang, tinggi hingga
2 m. Daun membundar telur sungsangmelonjong,
menjangat, pangkal membulat,
menjantung atau kadang-kadang
menumpul, ujung menumpul, tangkai
pendek, daun penumpu bertugi panjang.)
Daun mindi
Labu siam
Bahan-bahan dedaunan ditumbuk halus
kemudian airnya diperas
Ambil getah labu siam, lalu dicampur dengan
perasan dedaunan
Bahan didiamkan 1 minggu
Bahan siap digunakan untuk 1 – 2 sendok
dicampur dengan 1 liter air

Ramuan Pengendali Ulat, Wereng, dan Jamur
Bahan Cara Pembuatan
Lengkuas/laos 1 kg
Jahe 1 kg
Kunyit/kunir 1 kg
Umbi gadung 1 kg
Seluruh bahan ditumbuk atau diparut
Peras airnya dan dicampur satu sama lainnya
Bahan disimpan dalam botol selama 1 minggu dan siap digunakan
Satu sendok bahan dapat dicampur dengan 1 liter air
Akar jenu/tuba 1 kg

Ramuan Pengendali Kupu-kupu dan Ngengat
Bahan Cara Pembuatan
Bawang putih atau bawang merah 1
kg
Air secukupnya
Bahan ditumbuk halus dan tambahkan air 1 liter
Diaduk-aduk hingga rata dan airnya disaring
Bahan siap digunakan dengan mencampur 1 gelas
dengan 10 liter air

Fungsida Alami untuk Memberantas Jamur

Bahan Cara Pembuatan
Lengkuas/laos 1 kg
Kunyit/kunir 1kg
Jahe 1 kg
Ketiga bahan ditumbuk atau diparut
Ambil sarinya dengan cara diperas
Bahan siap digunakan untuk 2 sendok makan dicampur dengan air 10 –
15 liter


Ramuan Pemberantas Ramuan Keriting Pada Cabai
Bahan Cara Pembuatan

Abu dapur 2 kg
Tembakau ¼ kg
Bubuk belerang 3 ons
Semua bahan dilarutkan kedalam air selama 3 – 5 hari
Bahan siap digunakan dengan mencampurkan air 10 liter untuk 1
gelas


Ramuan Mempercepat Tanaman Berbuah
Bahan Cara Pembuatan
Telur ayam kampung 2 butir
Gula pasir atau tetes tebu 2
ons
Jeruk nipis 3 – 4 butir
Madu 3 sendok makan
Telur ayam dikocok/diaduk hingga kuning dan putih telurnya
tercampur secara merata
Gula dilarutkan kedalam 1 liter air
Peras jeruk nipis dan ambil airnya
Semua bahan dicampur sambil diaduk hingga merata atau
dapat ditambahkan madu
Larutan siap digunakan untuk ½ gelas dicampur dengan 14
liter air
Disemprotkan pada bagian bawah daun setiap 10 hari
Penyemprotan dihentikan bila bunga sudah terbentuk

Sebagaimana informasi yang kami sampaikan pada Sapa Nusantara sebelumnya, pestisida
organik ini cocok pula digunakan untuk tanaman – tanaman di pekarangan anda. Pestisida
organik? Mengapa tidak.

[dari berbagai sumber]

Friday, 27 November 2009

Pertanian Organik : Hambatan dan Keuntungan

Saat ini, pertanian organik adalah pilihan yang baik bagi petani yang ingin melakukan pertanian yang berkelanjutan.
Terdapat sejumlah hambatan dan keuntungan dari pertanian organik. Hambatan pertanian organik di Indonesia adalah :

1. Pupuk organik masih digunakan sebagai pupuk pelengkap, disamping pupuk kimia, karena adanya target produksi. banyak petani di Indonesia beranggapan bahwa pupuk organik tidak dapat memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman dan memiliki respon yang lebih lamban. Sebenarnya, ada laporan dari Amerika, bahwa efek dari pupuk organik sebesar 14 ton setahun tiap unit area selama 8 tahun akan tetap ada walaupun setelah 40 tahun dari pengaplikasian pupuk terakhir.
2. Pengendalian hama secara biologis masih dipandang mahal dan kurang efektif bagi petani umumnya.
3. Wilayah pertanian organik yang tidak terisolasi dengan pertanian konvensional, membuat pertanian organik lebih rawan terhadap hama.
4. Hasil produksi masih dibawah hasil pertanian konvensional.
5. Produk pertanian organik masih dipandang mahal.
6. Kurangnya informasi tentang pertanian organik.]
7. Tidak adanya peraturan yang jelas dari pemerintah yang mendukung pertanian organik.
8. Yang tidak ada di artikel asli : Para petani enggan menggunakan pupuk organik secara keseluruhan karena pupuk kompos menyebabkan banyak tumbuh gulma.

Keuntungan pertanian organik antara lain adalah :

1. Meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan sejumlah organisme pengganggu tanaman.
2. meningkatkan aktivitas mikroorganisme antagonis yang bisa membantu meningkatkan kesuburan tanah.
3. mencegah erosi.
4. meningkatkan cita rasa hasil pertanian.
5. Meningkatkan kandungan nutrisi.
6. Meningkatkan tekstur buah.
7. meningkatkan waktu penyimpanan.

Wednesday, 18 November 2009

Pembuatan Pestisida Organik

DAUN SIRSAK UNTUK ATASI TRIPS
Petani Menulis :Dari PetaniOleh Petani Untuk Petani
Daun Sirsak untuk atasi Thrips
Daun Sirsak (Nangka Belanda) ternyata dapat digunakan sebagai bahan pestisida organik untuk mengendalikan Hama Thrips pada tanaman Cabai.
Caranya :
50 - 100 lembar daun sirsak dihaluskan (boleh pake blender) dan dicampur dengan 5 liter air kemudian didiamkan selama sehari semalam, rendaman tersebut kemudian disaring dengan kain.
1 liter hasil saringan dapat dicampurkan dengan 1 tangki semprot ukuran 17 liter, dan gunakan untuk menyemprot tanaman cabe, Thrips pun akan lenyap.

Padi Organik Terganjal Pemasaran

Jombang (beritajatim.com) - Menjelang panen perdana padi organik, petani yang ada di Desa Sudimoro, Kecamatan Megaluh, resah. Pasalnya, para petani yang lahannya dijadikan obyek percontohan program system of rice intensification (SRI) ini kesulitan masalah pemasaran.
Sudah begitu, hasil panen mereka juga dipastikan menurun dari biasanya. Sebagian besar petani takut jika tidak ada pembeli. Akibatnya, para petani terpaksa menjualnya langsung ke pasaran. Namun resikonya adalah rugi besar, mengingat kuantitas panen mereka merosot hingga 50%.
Muhammad Sjafii (58) salah satu petani mengatakan ia sudah “merelakan” sawahnya seluas 250 ru (sekitar 3.562 meter persegi) untuk ditanami padi organik. Sehingga, sejak 2 bulan terakhir itu Sjafii dan puluhan petani lain di Sudimoro hanya menggunakan pupuk kompos, MOL (Mikro Organisme Lokal), dan beberapa jenis pupuk organik lainnya.
Namun para petani sedikit resah, ketika mengamati pertumbuhan padi organik mereka. “Jika diamati, pertumbuhan tanaman tidak seperti dengan padi biasa. Nampaknya hasil panen kita akan merosot tajam,” ungkap Sjafii kepada beritajatim.com, Senin (20/7/2009).
Kepala Desa Sudimoro, Sunan (45), membenarkan adanya keresahan para petani di desanya. Penyebabnya adalah menurunnya jumlah produksi padi, sebagai resiko awal penggunaan pupuk organik. Menurut Sunan, penerapan penggunaan pupuk organik memang sudah mendesak dilakukan. Mengingat kondisi tanah pertaniaan saat ini sudah mengkhawatirkan, karena ‘dihajar’ pupuk kimia.. “Sebenarnya, penurunan hasil panen sudah menjadi resiko,” ujar Sunan sembari mengatakan bahwa penurunan tersebut sampai 3 hingga 7 tahun ke depan.
Terpisah, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Jombang, Suhardi, berjanji akan mencarikan pasar padi organik tersebut. Suhardi optimis bahwa sudah ada pembeli dari luar kota yang akan menampung hasil panen padi organik tersebut. Informasi itu didapat dari perwakilan petani yang mengikuti seminar dan pembinaan di Bogor , beberapa waktu lalu.
Meski demikian, Dinas Pertanian belum dapat memastikan apakah hasil panen padi organik itu akan mendapatkan harga yang layak. “Kami terus memantau perkembangan petani padi organik di Sudimoro. Termasuk untuk pemasarannya. Namun untuk harga jualnya, kami belum dapat menjamin,” kata Suhardi ketika dihubungi lewat ponselnya. [suf/ted]

Monday, 16 November 2009

Persediaan Pupuk Bersubsidi Aman

Jombang – Musim tanam yang jatuh pada bulan November 2009 ini, persediaan pupuk bersubsidi bagi petani dipastikan aman. Demikian dikatakan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Jombang, Suhardy, Selasa (12/11).

Saat memberikan sambutan pada acara rapat koordinasi persiapan turun tanam MP 2009/2010, Suhardy menjamin ketersediaan dan pendistribusian pupuk bersubsidi bakal sesuai dengan yang dibutuhkan para petani di Kabupaten Jombang. “Karena proses pendistribusian pupuk yang baik, sehingga untuk Kabupaten Jombang ketersediaan pupuk mencukupi dengan jumlah 140.096 ton,” ujarnya.

Suhardy menambahkan, untuk mengembalikan kesuburan tanah pertanian, para petani perlu segera menerapkan sistem pertanian organik. Menurutnya, kondisi lahan pertanian di Kabupaten pada saat ini cukup memprihatinkan karena telah terkontaminasi bahan-bahan kimia.

Disebutkan, dari dari 21 kecamatan yang ada di Kabupaten Jombang, saat ini hanya ada 1 Kecamatan yang kadar kesuburan tanahnya mencapai 2%, yakni Kecamatan Wonosalam. “Komitmen untuk bertani organik sekarang ini sangat kami harapkan dari petani,” kata Suhardy.